NASEHAT    KHUTBAH    ADAB    SIROH    FATWA    SYI'AH    BAHASA ARAB    PENYEJUK HATI    DO'A DAN ZIKIR   
Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label UMUM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UMUM. Tampilkan semua postingan

SEPUTAR BULAN SYA'BĀN 02


بسم اللّه الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 

Alhamdulillāh, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam pada keluarga beliau, para shahābat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak. 

Shahābat yang dimuliakan oleh Allāh, 

Poin Kedua yang berkenaan dengan bulan Sya'bān yaitu amalan yang sangat dianjurkan di bulan Sya'bān. 


◆ Amalan yang sangat dianjurkan di bulan Sya'bān


(1) Yang pertama, berpuasa

Dalam hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Muslim, menyebutkan bahwa amalan yang sangat dianjurkan di bulan Sya'bān adalah memperbanyak puasa sunnah dan memperbanyak di sini, 

√ Tidak harus puasa Senin dan Kamis
√ Tidak harus puasa 13,14,15
√ Tidak harus puasa 3 hari di bulan Sya'bān (awal, akhir, pertengahan bulan) 

Tidak! 

Yang dimaksud memperbanyak puasa disini, adalah memperbanyak puasa sunnah secara mutlak. Tidak dibatasi dengan waktu, mudah-mudahan bisa kita amalkan.

Hadīts riwayat Imām Muslim: 

عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ - رضى الله عنها - عَنْ صِيَامِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه

 وسلم فَقَالَتْ كَانَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ قَدْ صَامَ . وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ قَدْ أَفْطَرَ . وَلَمْ أَرَهُ صَائِمًا

 مِنْ شَهْرٍ قَطُّ أَكْثَرَ مِنْ صِيَامِهِ مِنْ شَعْبَانَ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلاَّ 

قَلِيلاً 

Dari Abū Salamah radhiyallāhu Ta'āla 'anhu pernah bertanya kepada 'Āisyah Radhiyallāhu Ta'āla 'anhā tentang bagaimana puasa sunnah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam. 

'Āisyah berkata:

"Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam sering berpuasa sampai kami mengira beliau terus berpuasa (tidak pernah berbuka) dan sering Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berbuka (tidak berpuasa) sampai kami mengira terus-terusan berbuka tidak berpuasa. Dan aku belum pernah melihat beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) dalam keadaan berpuasa dari satu bulan sama sekali lebih banyak dari puasanya beliau di bulan Sya'bān. Beliau sering berpuasa di bulan Sya'bān seluruhnya dan beliau sering berpuasa Sya'bān kecuali sedikit.' 

(Hadīts Riwayat Muslim nomor 1956 versi Syarh Muslim nomor 1156).

Pelajaran dari hadīts ini, bahwa amalan yang sangat ditekankan di bulan Sya'bān adalah berpuasa. Dan ini faedah hadīts ini yang menyatakan bahwa Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam hampir berpuasa seluruhnya. 

Kata-kata "seluruhnya" dari 'Āisyah radhiyallāhu Ta'āla 'anhā disini maksudnya adalah tidak satu bulan penuh. Bukan! 

Kenapa? 

Karena Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda: 

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلاَّ رَمَضَانَ 

"Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam belum pernah menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali di bulan Ramadhān."

(Hadīts Riwayat Muslim nomor 1956 versi Syarh Muslim nomor 1156)

Ini menunjukan bahwa tidak pernah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam berpuasa di dalam satu bulan secara penuh, maksimal sempurna kecuali bulan Ramadhān. 

Menunjukan pula bahwa bulan Sya'bān, Nabi Shallallāhu 'alayhi wa sallam benar berpuasa sebanyak-banyaknya tapi tetap ada berbukanya. 

Karena ada penjelasan, 

كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلاَّ قَلِيلاً

"(Nabi Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam) sering berpuasa Sya'bān secara seluruhnya kecuali sedikit saja tidak berpuasa."

Kemudian hadīts yang lain, hadīts riwayat Bukhāri. 

عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، أَنَّ عَائِشَةَ ـ رضى الله عنها ـ حَدَّثَتْهُ قَالَتْ، لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صلى الله عليه

 وسلم يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ،

"Abū Salamah Radhiyallāhu Ta'āla 'anhu bercerita bahwa 'Āisyah bercerita kepada beliau bahwa Nabi Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam belum pernah berpuasa dalam sebulan lebih banyak dibandingakan bulan Sya'bān. Beliau berpuasa di bulan Sya'bān seluruhnya." 

(Hadīts Riwayat Bukhari nomor 1834 versi Syarh Muslim nomor 1970).

Maksudnya puasa sunnah, adapun puasa wajib Ramadhān tentunya. 

Lihat! Beliau berpuasa di bulan Sya'bān seluruhnya. 

Ingat! Kata-kata "seluruhnya" itu artinya "hampir semuanya". 

Jika kita sudah pahami itu, di sana ada amalan yang kedua yang sangat ditekankan, sebagaimana yang sudah kita baca (pada bagian lalu) hadītsnya ketika bulan Sya'bān.


(2) Jauhkan diri kita, keluarga kita, anak-anak istri kita, rumah kita dari seluruh hal yang berkaitan dengan kesyirikan

Seperti (misalnya): 

√ Jimat-Jimat yang dianggap mendatangkan keramat. 

Apa saja yang berkaitan dengan sesuatu yang merusak aqidah seorang muslim hendaknya dijauhkan, agar mendapatkan ampunan di malam Nisfu Sya'bān. 


⑶ Menyelesaikan persengketaan, perselisihan antara sesama muslim yang lagi bertengkar (berselisih) maka minta dihalalkan (dimaafkan) meskipun dalam keadaan benar

⑷ Hilangkan rasa hasad, dengki, iri terhadap apa yang dimiliki orang lain

Hasad, dengki, iri terhadap apa yang dimiliki oleh orang lain maksudnya adalah bercita-cita (berangan-angan) agar nikmat atau kelebihan yang ada pada orang lain hilang. 


Kalau sudab kita pahami amalan-amalan yang sangat dianjurkan, selanjutnya kita berdo'a dengan nama-nama Allāh yang Husna dan sifat-sifat-Nya yang mulia yang bisa kita amalkan. 

Mudah-mudahan bermanfaat. 

Cukup kiranya apa yang baik dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla. 


وصلى الله على نبينا محمد والحمد لله  رب العالمين
والسَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
Sumber : 
🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 27 Rajab 1438 H / 24 April 2017 M
👤 Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc
📔 Materi Tematik | Seputar Bulan Sya'ban (Bagian 2 dari 7) 
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AZ-SeputarBulanSyaban-02
🌐 Sumber: https://youtu.be/ZCy-iTiDWMg

SEPUTAR BULAN SYA'BĀN BAGIAN 01

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 

Alhamdulillāh, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.,

Shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam pada keluarga beliau, para shahābat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak. 

Saya berdo'a dengan nama-nama Allāh yang husna dan sifat-sifat yang mulia. 

اَللَّهُمَّ إِنِّنا أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا , وَ رِزْقًا طَيَّبًا , وَ عَمَلاً مُتَقَبَّلاً

"Wahai Allāh, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu, ilmu yang bermanfaat, rejeki yang baik dan amal yang diterima, Allāhumma Aamiin."

Para shahābat yang dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla. 

Saya akan membicarakan tentang bulan Sya'bān, saya beri judul "Seputar bulan Sya'bān".

Para shahābat  yang dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla. 

Poin yang pertama yang berkenaan dengan bulan Sya'bān adalah keutamaan bulan Sya'bān. 


◆ Keutamaan bulan Sya'bān 


▪Hadīts Pertama 

Dalam sebuah hadīts yang diriwayatkan oleh Imām An Nasā'i dan dishahīhkan atau dihasankan oleh Imām Al bāniy rahimahullāh Ta'āla: 

قَالَ حَدَّثَنِي أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنْ الشُّهُورِ مَا 

تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ, قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ 

فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Dari 'Usāmah Ibnu Zaid Radhiyallāhu 'anhu bercerita, Aku berkata: "Wahai Rasūlullāh, aku belum pernah melihat engkau berpuasa dalam sebulan dari bulan-bulan yang ada lebih banyak dibandingkan berpuasa di bulan Sya'bān." Kemudian, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menjawab pertanyaan ini, beliau mengatakan: "Itu adalah bulan yang orang-orang lalai terhadap bulan tersebut (bulan Sya'bān adalah sebuah bulan yang orang-orang kebanyakan lalai terhadap bulan tersebut). Terletak antara bulan Rajab dengan bulan Ramadhān dan dia adalah bulan didalamnya diangkat amal-amal kepada Rabb alam semesta. Maka aku ingin amalku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa.." (Hadīts Riwayat An Nasāi' nomor 2317).

Dari hadīts ini, kita ambil pelajaran keutamaan bulan Sya'bān adalah amalan-amalan perbuatan manusia (amal ibadah atau amal buruk) diangkat dihadapan Allāh Subhānahu wa Ta'āla. 

Ada perbedaan pendapat atau ada sebuah permasalahan yang terjadi diantara para ulamā dan dibicarakan diantara mereka tentang diangkatnya amalan perbuatan di bulan Sya'bān. 

Apa itu? 

Yaitu dalam hadīts riwayat Imām Muslim dan yang lainya, bahwa Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyatakan, 

√ Amal siang diangkat sebelum malam, 
√ Amal malam diangkat sebelum siang. 

Hadīts ini menunjukan bahwa amalan diangkat pada setiap harinya. 

Disana ada hadīts yang lain yang juga diriwayatkan oleh Imām Muslim bahwa ketika beliau ditanya kenapa berpuasa pada hari Senin dan Kamis? Maka beliau juga menjawab bahwa amalan diangkat pada hari Senin dan Kamis. 

Bagaimana menggabungkan tiga riwayat yang shahīh-shahīh ini? 

⑴ Ada amal yang diangkat, amal perbuatan siang diangkat sebelum malam, amal perbuatan malam diangkat sebelum siang. 

⑵ Dan ada hadīts yang menyatakan bahwa setiap Senin dan Kamis juga diangkat amal perbuatan. 

⑶ Ada hadīts lagi yang menyatakan bahwa bulan Sya'bān diangkat amal perbuatan. 

Maka jawabannya, disebutkan di dalam kitāb Hasyiyatusindi bahwa tiga riwayat tersebut shahīh dan tidak ada perbedaan pendapat di dalamnya, hanya cara memahaminya adalah: 

⑴ Setiap hari diangkat amal, yaitu amal perbuatan siang diangkat sebelum malam, amal perbuatan malam diangkat sebelum siang. 

⑵ Setiap pekan diangkat amal perbuatan dua kali yaitu amal perbuatan untuk satu pekan diangkat hari Senin dan Kamis.

⑶ Setiap tahun, amal perbuatan diangkat pada bulan Sya'bān. 

Ini menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar diangkatnya amal perbuatan. Karena tiga hadīts tersebut shahīh dan semua hadīts yang menunjukan tentang diangkatnya amal perbuatan senantiasa Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam keadaan sedang berpuasa. 

Artinya, ketika amal diangkat beliau ingin diri beliau dalam keadaan sedang berpuasa.

Ini menunjukan bahwa kita dianjurkan pada hari-hari ini, ketika amal-amal perbuatan diangkat maka kita sedang dalam keadaan ibadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla. 

Yang jelas, ini adalah poin yang pertama dari keutamaan bulan Sya'bān yaitu, bulan yang diangkat amal satu tahun, yaitu terjadi pada bulan Sya'bān. 

Maka perbanyaklah berpuasa pada bulan Sya'bān ini. 


▪Hadīts Kedua 

Yang menunjukan keutamaan bulan Sya'bān adalah hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Ibnu Mājah dan hadītsnya di hasankan oleh Imām Albāniy rahimahullāh Ta'āla. 

Dari Abū Mūsā Al Ashary radhiyallāhu Ta'āla 'anhu meriwayatkan, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda: 

إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِى لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

"Sesungguhnya Allāh benar-benar melihat pada malam pertengahan bulan Sya'bān atau disebut pada malam Nisfu' Sya'bān, lalu Allāh akan mengampuni seluruh makhluknya (kecuali) dua orang yang tidak diampuni oleh Allāh di malam Nisfu' Sya'bān yaitu musyrik dan orang musyāhin." (Hadīts Riwayat Ibnu Mājah nomor 1390).

⇒Orang musyrik adalah seorang yang melakukan kesyirikan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla. 

⇒Orang musyāhin, musyāhin diambil dari kata syahna, syahna artinya pertengkaran /perselisihan/perkelahian antara seseorang dengan yang lain. 

Dua orang ini saja yang tidak mendapatkan ampunan dari Allāh pada malam pertengahan bulan Sya'bān. 

Pelajaran dari hadīts ini yang bisa kita ambil dari keutamaan bulan Sya'bān adalah malam 
Nisfu' Sya'bān, yaitu malam pengampunan dari Allāh untuk seluruh makhluk-Nya kecuali seorang musyrik dan seorang musyāhin. 


▪ Hadīts Ketiga

Hadīts yang menunjukan tentang keutamaan bulan Sya'bān berikutnya, yaitu hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Baihaqi dari Abū Tsa'labah Al Husain radhiyallāhu Ta'āla 'anhu dan hadīts ini dihasankan oleh Imām Albāniy rahimahullāh Ta'āla. 

Nabi Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda: 

إذا كان ليلة النصف من شعبان اطلع الله إلى خلقه، فيغفر للمؤمنين، ويملي للكافرين 

ويدع أهل الحقد بحقدهم حتى يدعوه

"Jika pada malam pertengahan bulan Sya'bān, Allāh menilik pada makhluk-makhluk-Nya (seluruhnya), lalu Allāh akan mengampuni orang-orang yang berimān dan membiarkan orang-orang kāfir dan meninggalkan orang-orang yang hasad dengan sifat hasadnya sampai mereka meninggalkan sifat hasad tersebut." (Hadīts Riwayat At Thabrāni dalam Shahīhul Jami' nomor 771).

Berdasarkan hadīts tersebut kita ambil pelajaran, bahwa keutamaan bulan Sya'bān adalah malam pertengahan bulan Sya'bān, pengampunan dari Allāh untuk orang berimān kecuali, 

⑴ Orang kāfir
⑵ Orang yang hasad (orang yang iri dan dengki di dalam dirinya) 

Inilah tiga hadīts shahīh yang berkenaan dengan bulan Sya'bān. 

Mudah-mudahan bermanfaat, apa yang baik dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla. 


وصلى الله على نبينا محمد والحمد لله  رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
Sumber :
🌍 BimbinganIslam.com
Sabtu, 25 Rajab 1438 H / 22 April 2017 M
👤 Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc
📔 Materi Tematik | Seputar Bulan Sya'ban (Bagian 1 dari 7) 
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AZ-SeputarBulanSyaban-01
🌐 Sumber: https://youtu.be/ZCy-iTiDWMg

LARANGAN MEMPERSULIT ORANG LAIN


بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Shahābat yang  dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla, Kita masuk pada hadīts yang ke-20.

وَعَنْ أَبِي صِرْمَةَ - رضى الله عنه - قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ - صلى الله عليه وسلم -{ مَنْ 

ضَارَّ مُسْلِمًا ضَارَّهُ اَلله, وَمَنْ شَاقَّ مُسَلِّمًا شَقَّ اَللَّهُ عَلَيْهِ } أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ وَاَلتِّرْمِذِيُّ 

وَحَسَّنَهُ.

Dari shahābat Abi Shirmah radhiyallāhu Ta'āla 'anhu beliau berkata, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

"Barangsiapa yang memberi kemudharatan kepada seorang muslim, maka Allāh akan memberi kemudharatan kepadanya, barangsiapa yang merepotkan (menyusahkan) seorang muslim maka Allāh akan menyusahkan dia."

(Hadīts riwayat Abū Dāwūd nomor 3635, At Tirmidzi nomor 1940 dan dihasankan oleh Imām At Tirmidzi).

Makna dari hadīts ini tanpa diragukan lagi adalah makna yang benar apalagi ada hadīts-hadīts lain yang menguatkan (semakna) dengan hadīts ini.

Contohnya seperti hadīts yang shahīh dalam Shahīh Muslim nomor 1828, Nabi pernah berdoa:

  اَللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ  

"Ya Allāh, barangsiapa yang mengurusi urusan umatku kemudian dia merepotkan umatku maka susahkanlah dia."

Hadīts ini menunjukan akan dua perkara penting dalam syari'at, yaitu:

⑴ Kaedah yang sangat agung:

  الجزاء مماثلا للعمل من جنسه في الخير والشر

Bahwasanya balasan sesuai dengan jenis amalan dan ini berlaku dalam kebaikan maupun dalam keburukan.

Dan inilah hikmah Allāh Subhānahu wa Ta'āla, Allāh memberikan balasan sesuai dengan apa yang dilakukan oleh seorang hamba.

⇒Barangsiapa melakulan amalan yang dicintai oleh Allāh, Allāh akan mencintainya, barangsiapa melakukan amalan yang dibenci oleh Allāh, Allah akan membencinya.

⇒Barangsiapa memudahkan seorang muslim maka Allāh akan mudahkan urusannya di dunia maupun diakhirat.

⇒Barangsiapa yang menghilangkan penderitaan seorang muslim maka Allāh akan menghilangkan penderitaannya di dunia dan juga di akhirat.

⇒Barangsiapa membantu seorang hamba untuk memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allāh akan membantu untuk memenuhi kebutuhannya.

Ini semua dalam kebaikan, sebaliknya dalam keburukan pun demikian.

⇒Barangsiapa memberi kemudharatan kepada seorang muslim maka Allāh akan memberikan kemudharatan kepada dia.

⇒Barangsiapa membuat makar, maka Allāh akan membuat makar kepada dia

⇒Barangsiapa membuat susah, menimbulkan kesulitan bagi saudaranya maka Allāh akan membuat dia susah juga.

Ini berlaku dalam segala hal, jadi balasan sesuai dengan perbuatan, ini berlaku pada kebaikan maupun keburukan.

 ⑵ Kaedah yang sangat agung yang disebutkan para ulamā dengan istilah:

 الضرر يزال

Bahwasanya kemudharatan harus dihilangkan.

Dan ini sesuai dengan hadīts yang lain, yang mashyur hadīts hasan, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

لاضَرَرَ وَلاضِرَارَ

Tidak boleh memberi kemudharatan sama sekali baik memberi kemudharatan kepada diri sendiri ataupun kepada orang lain.

⇒Intinya kemudharatan harus dihilangkan sama sekali.

Kemudharatan di sini sama dengan hadīts yang sedang kita bahas, "Barangsiapa memberi kemudhatan kepada orang lain, maka Allāh akan memberi kemudharatan kepada dia."

Kemudharatan itu dalam dua bentuk:

→ Bentuk pertama : Menghalangi mashlahat yang seharusnya diterima oleh orang lain, kemaslahatan dia akhirnya tidak dia dapatkan.

Berarti kita memberikan kemudharatan kepada dia.

→ Bentuk kedua : Memberi kemudharatan secara langsung kepada dia, seperti mengganggunya, menyakitinya dan yang lainnya.

Oleh karenanya hadīts ini umum:

 مَنْ ضَارَّ مُسْلِمًا ضَارَّهُ الله

Barangsiapa memberi kemudharatan kepada seorang muslim yang lain.

Dan berlaku dalam segala hal.

Apakah memberi kemudharatan yang berkaitan dengan hartanya, jiwanya (tubuhnya), harga dirinya, anaknya, istrinya, orang tuanya semua kemudharatan tidak boleh kita berikan kepada orang lain, berkaitan dengan apapun dia.

Banyak bentuk-bentuk muamalah (transaksi-transaksi) yang diharāmkan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam karena akan memberikan kemudharatan kepada orang lain.

Seperti  melakukan ghisy (penipuan dalam jual beli). Demikian juga an najasy (jual beli) tidak boleh juga seorang jual beli dengan menutupi aib-aib barang yang hendak dijual. Ini semua dilarang.

Semua perkara yang bisa mendatangkan kemudharatan kepada saudara maka dilarang dalam syari'at berkaitan dengan hadīts ini.

Demikian pula tatkala seseorang bersyarikat dengan saudaranya dalam jual beli (menjadikan dia patner atau teman dalam jual beli) maka tidak boleh dia memberi kemudharatan kepada patnernya dalam praktek jual beli.

Demikian juga seorang tidak boleh mengganggu tetangganya baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan, baik secara langsung ataupun tidak langsung.

Demikian juga tidak boleh seseorang memberi kemudharatan kepada orang yang memberi hutang kepada dia (orang yang telah membantunya) kemudian dia tunda-tunda pembayarannya padahal dia mampu untuk membayarnya.

Ini semua kemudharatan, dan dilarang dalam syari'at, bahkan tidak boleh seseorang memberi wasiat yang memberi kemudharatan kepada ahli warisnya.

Oleh karena itu, Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصَى بِهَا أَوْ دَيْنٍ غَيْرَ مُضَارٍّ

"Bahwasanya harta waris itu dibagi setelah wasiat yang diwasiatkan (setelah membayar hutang) dengan syarat tidak boleh memberi kemudharatan." (QS An Nisā': 12).

Misalnya:

Seorang sebelum meninggal dia menulis wasiat, dia mengkhususkan sebagian harta kepada sebagian ahli warisnya lebih daripada yang lainnya, maka ini memberi kemudharatan kepada ahli waris yang lain.

Ini memberi kemudharatan kepada ahlu waris yang lain karena dia khususkan sebagian harta kepada sebagian ahli waris, sementara yang lainnya tidak diberikan.

Atau dia sengaja mengurangi harta warisan, atau dia memberi wasiat kepada selain ahli waris dalam rangka untuk memberi kemudharatan kepada ahli waris. Ini semua dilarang karena memberi kemudharatan.

Demikian juga tidak boleh seorang suami memberi kemudharatan kepada istrinya dengan segala bentuk.

Misalnya:

Dia menahan istrinya, istrinya tidak dia cerai sehingga istrinya sakit hati dan hidupnya terkatung-katung (seakan-akan tidak memiliki suami).

Atau istrinya sudah dia cerai kemudian menjelang selesai masa 'iddah kemudian suami tersebut kembali lagi (rujuk lagi) dengan niatnya bukan untuk mengembalikan kemaslahatan pernikahan, namun untuk menyakiti hati mantan istrinya dengan tujuan agar mantan istrinya tidak bisa menikah lagi dengan orang lain.

Demikian juga jika seorang suami memiliki istri lebih dari satu kemudian dia lebih condong kepada salah satu istrinya, maka ini memberi kemudharatan kepada istri yang lain. Ini semua dilarang.

Dan diantara kemudharatan yang sangat berat telah kita sebutkan di awal bahwasanya tidak boleh seorang memberi kemudharatan kepada muslim yang lain dalam segala hal, baik yang berkaitan dengan hartanya, jiwanya dan juga berkaitan dengan harga dirinya.

Diantara kemudharatan yang sangat besar yang sangat mungkin seorang terlupakan yaitu menjatuhkan harga diri orang lain.

Seorang tatkala mencuri harta orang lain dia tahu bahwa dia telah memberi kemudharatan kepada orang tersebut, atau dia pukul orang lain dan dia tahu dia memberi kemudharatan kepada orang tersebut.

Tapi kalau dia  menghībah, menjatuhkan atau mengungkap kejelekan orang dan dia merasa dia tidak memberi kemudharatan, padahal itu merupakan kemudharatan yang lebih besar daripada kemudharatan yang berkaitan dengan harta dan jiwa.

Oleh karenanya sebagaimana seorang penyair pernah berkata:

جراحات السنان لها التئام ولا يلتام ما جرح اللسان

Bahwasanya luka yang disebabkan sayatan pedang masih bisa diperbaiki (bisa sembuh) akan tetapi luka yang disebabkan oleh sayatan lisan maka susah untuk disembuhkan.

Shahābat  yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

⇒Jadi seluruh bentuk memberi kemudharatan kepada orang lain maka dilarang.

Demikian juga Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda dalam hadīts ini:

  وَمَنْ شَاقَّ مُسَلِّمًا شَقَّ الله عَلَيْهِ

"Barangsiapa memberatkan seorang muslim maka dia akan diberi keberatan (kesulitan) juga oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla."

Terutama orang-orang yang bekerja di instansi pemerintah atau yang berkaitan dengan urusan orang banyak, hendaknya dia berusaha untuk bekerja dengan baik agar tidak merepotkan kaum muslimin.

Urusan yang berkaitan dengan kenegaraan hendaknya dikerjakan dengan baik agar tidak merepotkan orang lain, tapi kalau dia sengaja merepotkan orang lain maka dia akan mendapatkan kerepotan dari Allāh di dunia maupun di akhirat.

Wallāhu Ta'āla A'lam bish Shawwab.

Sumber :
🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 10 Jumadil Ūla 1438 H / 07 Februari 2017 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Kitābul Jāmi' | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
🔊 Hadits 20 | Larangan Mempersulit Orang Lain
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H20

AYAH IBU, MEREKA BUTUH DO'AMU


Ayah Ibu......

Ketika melihat anak kita nakal dan bandel, apakah yang kita lakukan?

Tentu sebagian besar dari kita berusaha mencari solusinya, baik dengan membaca buku, browsing melalui internet, menghadiri seminar parenting, atau mengikuti klub parenting ini dan itu.

Tetapi, pernahkah terpikir pada diri kita, bahwa solusi yang paling jitu dan paling penting dalam memperbaiki anak-anak kita adalah.....

Mendo'akan mereka


Ayah Ibu......

Do'a adalah sarana terpenting dalam mendidik anak, sekaligus merupakan hal termudah yang mampu dilakukan kedua orang tua. Akan tetapi, banyak orang tua yang lalai dari hal ini.

Banyak orang tua yang tertipu dengan kemampuannya, pengetahuannya, amal shālihnya, atau usahanya saja. Padahal, di tangan Allāh-lah segala urusan.

Dialah yang mampu membolak balikkan hati anak-anak kita, sehingga mereka menjadi shālih atau durhaka.

Siapakah di antara kita yang merasa lebih shālih dan lebih sabar dibandingkan dengan Nabi Nuh alayhissalām?

Namun, ternyata Allāh menguji beliau dengan anak yang kāfir. Begitulah, di tangan Allāh sajalah kebaikan dan petunjuk.

Ayah Ibu......

Janganlah tertipu dengan keshālihan, kecerdasan, dan kemampuan kita. Contohlah Nabi Ibrāhīm, kekasih Allāh dan salah satu rasūl ‘ulul azmi, yang tidak pernah merasa sombong dengan keshālihannya.

Sebaliknya, ia tetap berdo'a merendahkan diri di hadapan Allāh untuk keshālihan anak-anaknya, dengan do'a-do'a yang diabadikan dalam Al Qurān:

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

"Dan jauhkanlah aku dan anakku dari (perbuatan) menyembah patung." (QS Ibrāhīm: 35).

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَ تَقَبَّل دُعَاءِ

"Wahai Rabbku, jadikanlah aku orang yang mendirikan shalāt dan juga keturunanku. Wahai Rabb kami, kabulkanlah do'a kami." (QS Ibrāhīm: 40).

Ayah Ibu......

Para salaf dahulu pun sangat bersemangat mendo'akan anak-anak mereka. Fudhail bin Iyadh rahimahullāh, seorang ulama besar, berdo’a untuk anaknya yang masih kecil:

"Yā Allāh sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku telah berusaha keras mendidik anakku Ali dan aku tidak mampu, maka didiklah dia untukku."

Maka Allāh pun mengabulkan do'anya, dan menjadikan Ali bin Fudhail sebagai ulama besar, setara dengan ayahnya.

Begitu pula Said ibnul Musayyab, beliau berkata :

"Sesungguhnya bila aku ingat anakku dalam shalātku, maka aku akan memperpanjang shalātku.”

Maksudnya adalah ia memperbanyak do'a untuk anaknya di dalam shalātnya.

Dan berkata juga salah seorang yang shālih kepada anaknya :

"Wahai anakku, sesungguhnya aku memperbanyak shalātku untukmu."


Ayah Ibu......

Janganlah pelit untuk mendo'akan kebaikan bagi anak-anak kita, karena do'a kita untuk mereka adalah do'a yang mustajab.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ يُسْتَجَابُ لَهُنَّ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ

"Ada tiga do'a yang pasti dikabulkan oleh Allāh, tanpa ada keraguan, yaitu : do'a orang yang terzhālimi, do'a orang yang  bepergian jauh (musafir), dan do'a orang tua untuk anaknya." (Hadīts Riwayat Ibnu Mājah dan dihasankan oleh Syaikh Al Bāniy rahimahullāh dalam Shāhih Jami’ Ash Shaghir).

Bahkan Rasūlullāh juga menyebutkan dalam hadīts yang lain :

ثلاث دعوات لا ترد دعوة الوالد لولده ، ودعوة الصائم ، ودعوة المسافر

"Ada tiga do'a yang tidak akan ditolak, yaitu do'a orang tua untuk anaknya, do'a orang yang berpuasa (sampai ia berbuka), dan do'anya musafir." (Hadīts Riwayat Abul hasan Al Mahruwiyah dishāhihkan oleh Syaikh Al Bāniy rahimahullāh dalam Shāhih Jami’).

Maka, manfaatkanlah keutamaan ini dengan sebaik-baiknya. Berdo'alah sebelum, disaat, dan setelah melakukan seluruh usaha pendidikan anak. Jangan sampai kita baru berdo'a bila kita telah gagal dalam mendidik anak kita!

Ayah Ibu......

Do'akanlah kebaikan untuk anak-anak kita, dan jangan pernah mendo'akan keburukan untuk mereka.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

 لاَ تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ وَلاَ تَدْعُوا عَلَى أَوْلاَدِكُمْ وَلاَ تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ لاَ تُوَافِقُوا مِنَ اللَّهِ

 سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ

"Janganlah kalian mendo'akan keburukan untuk diri kalian sendiri, jangan mendo'akan keburukan untuk anak-anak kalian, dan jangan mendo'akan keburukan untuk harta kalian. Janganlah kalian (berdo'a keburukan) bertepatan dengan waktu dikabulkannya do'a dari Allāh, lalu Allāhpun mengabulkannya untuk kalian" (Hadīts Riwayat Muslim, hadīts ini dishāhihkan oleh Syaikh Al Bāniy rahimahullāh dalam Shāhih Al Jami’ Ash Shaghir no. 1500).

Berapa banyak kenakalan, dan kedurhakaan anak sebenarnya adalah akibat dari do'a yang pernah diucapkan orang tuanya sendiri?

Seseorang pernah mengadu pada 'Abdullāh bin Mubarak rahimahullāh tentang anaknya yang durhaka.

Maka Ibnul Mubarak bertanya:

"Apakah kamu pernah mendo'akan kejelekan untuknya?"

Ia menjawab, "Iya."

Maka Ibnul Mubarak berkata:

"Pergilah, karena engkau  sendiri yang telah merusaknya."


Ayah Ibu......

Kita semua pasti memimpikan ketika kita tua nanti, anak-anak yang dulu mungil dan lemah itu akan mendo'akan kita. Maka, jadilah contoh bagi mereka dengan banyak mendo'akan mereka. Biasakanlah mengucapkan do'a bagi mereka, bahkan dalam perkataan sehari-hari. Bila mereka berbuat baik, biasakanlah mengatakan:

بارك الله فيك


"Semoga Allāh memberkahimu"

Atau:

"جزاك الله خيرا"

"Semoga Allāh membalasmu dengan kebaikan"

Sebaliknya, bila mereka berbuat keburukan katakanlah:

“ُهَدَاك الله”

(Semoga Allāh memberimu petujuk)

Atau:

 “أَصْلَحَكَ اللهُ”

"Semoga Allāh memperbaikimu"

Membiasakan do'a dalam perkataan sehari-hari juga mendidik anak untuk memiliki adab yang baik, berlemah lembut dan suka mendo'akan orang lain, sebaliknya, gampang memarahi dan melaknat anak akan mendidik mereka menjadi pemarah, kasar dan mudah melaknat pula. Karena itu Ayah Ibu, tahanlah lisān kita dari kalimat-kalimat yang buruk bagi buah hati kita sendiri.

Contohlah teladan terbaik sepanjang zaman, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam yang tidak pernah mendo'akan keburukan bagi orang lain.

Dikisahkan bahwa suatu ketika, Thufail bin Amr Ad Dausy dan para shahābatnya datang kepada Nabi, mereka mengadu:

"Yā Rasūlullāh, sesungguhnya suku Daus bermaksiat dan enggan (untuk taat), maka do'akanlah kecelakaan untuk mereka." Maka Rasūlullāh menjawab: "Yā Allāh berilah petunjuk kepada suku Daus dan datangkanlah mereka dalam keadaan muslim." (Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim).

Yā Allāh, berikanlah kepada kami kelapangan hati dan kemudahan untuk banyak berdo'a bagi kebaikan anak-anak kami….

Sumber : 
Ummu Sholeh
@ Madinatul Qur’an
🌍 BimbinganIslam.com
Sabtu, 11 Safar 1438 H / 8 April 2017 M
📗 Ayah Ibu, Mereka Butuh Doamu

TIPS MENGOPTIMALKAN WAKTU BAGIAN 3



Kita panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allāh Tabarākahu wa Ta'ala

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam, kepada para shahabatnya, keluarganya dan umatnya yang setia mengikuti tuntunannya hingga di akhir nanti.

Pada kesempatan yang berbahagia kali ini, kita akan melanjutkan bagaimana cara mengoptimalkan waktu.


(3) MANFA'ATKAN WAKTU-WAKTU ISTIMEWA

Waktu kita terbatas tidak? Terbatas.
Pekerjaannya banyak? Banyak. Amalan juga banyak.

Bagaimana caranya supaya kita bisa mensiasati waktu yang terbatas tersebut dan kita bisa meraih pundi-pundi pahala sebanyak-banyaknya?

Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan keistimewaan kepada beberapa waktu. Ada waktu-waktu yang memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh waktu-waktu lain. Kalau kita berhasil memanfa'atkan waktu-waktu tersebut, maka kita akan bisa meraup pundi-pundi pahala sebanyak-banyaknya.

▪Contoh:

Malam ini dengan malam Lailatul Qadr, sama tidak ?

Panjenengan (anda) beramal malam ini, sama beramal malam Lailatul Qadr, pahalanya lebih besar mana? Besar malam Lailatul Qadr.

Karena:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

"Lailatul Qadr itu lebih baik dari seribu bulan." (QS Al Qadr: 3).

Beramal satu malam Lailatul Qadr, pahalanya lebih banyak daripada pahala beramal selama seribu bulan. Ya, 80 tahunan sekian ya, 83 tahunan atau 82 tahunan lewat berapa bulan. Bayangkan, 1 malam pahalanya seperti beramal 82 tahun lebih. Inikan waktu istimewa.

Makanya, kalau misalnya kita ketemu dengan waktu-waktu yang istimewa itu, jangan biarkan waktu tersebut berlalu bergitu saja. Karena belum tentu kita akan ketemu lagi dengan waktu itu, belum tentu seumur-umur kita ketemu 1 kali. Makanya, ketika kita sudah masuk 10 hari terakhir dari bulan rāmadhan, kita harus tingkatkan amalam kita, supaya kita bisa memanfaatkan waktu istimewa tersebut.

▪Contoh yang lain:

Puasa Arāfah, apakah puasa Arāfah sama pahalanya kaya puasa Senin Kamis? Tidak.

Bukan berarti puasa Senin Kamis tidak ada keutamaannya. Tapi puasa Arāfah keutamaannya kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

... اَحْتَسِبُ عَلَى اللّهِ اَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِيْ بَعْدَهُ ...

"(Puasa Arafah) Saya mohon kepada Allāh, agar piasa itu dapat menghapuskan dosa-dosa satu tahun yang lampau dan satu tahun yang akan datang." (Hadits Riwayat Muslim nomor 1162).

Ini untung tidak? Untung banget ini.

Makanya kalau misalnya sampai pada hari Arāfah, 9 Dzulhijah, usahakan, manfaatkan waktu yang istimewa itu untuk mengumpulkan pundi-pundi pahala sebanyak-banyaknya. Jadi, Allāh Subhānahu wa Ta'āla manakala memberikan waktu-waktu tersebut bukan kosong tanpa makna, tapi kita dimotivasi oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Ini loh ada waktu-waktu yang luar biasa, dalam waktu yang sedikit engkau bisa mendapatkan pahala yang luar biasa.



(4) LAKUKAN BERBAGAI AKTIVITAS YANG BERBEDA DALAM WAKTU YANG SAMA


Banyak diantara orang, pikirannya lagi "nekuni ike, ike bae lah, ra sah sing lian-laine" (jika sedang menekuni satu hal, maka satu itu saja, tidak perlu melakukan aktivitas lain).Padahal sebenernya, ada beberapa aktivitas yang bisa dilakukan walaupun berbeda dalam waktu yang sama, dan itu tujuannya adalah untuk mensiasati waktu kita yang terbatas dan para ulama kita dulu terbiasa seperti itu.

Berikut beberapa contoh:

▪Ada seorang ulama namanya Al Imam Khatib Al Baghdadi, beliau itu kemana saja, jalan kemana saja, mesti bawa buku. Berjalan itu aktivitas atau bukan? Aktivitas.

Kalau njenengan (anda) berjalan sambil ngapain? SMSan ? Facebook-an?

Kalau Imam Al Khatib Al Baghdadi sambil berjalan dia bawa buku, sambil baca, baca buku. Kemudian setelah itu dia jalan, baca buku, terus gitu. Jadi dalam satu waktu dia melakukan sekian aktivitas. Ya, kalau sekarang kan banyak sekali waktu-waktu kita yang kosong. Ketika kita lagi nunggu antri di rumah sakit, Kita pinginnya dapat nomor yang awal sehingga berangkatnya awal, tapi dokternya tekannya awan (datangnya siang), ngapain coba di situ?

Mendingan bawa buku, bawa majalah, aktivitas.

Sayangnya justru yang menonjol dalam hal seperti itu bukan kaum muslim, saat ini lho, saat ini. Kalau jaman dahulu kaum muslimin sangat menonjol, kalau saat ini justru yang menonjol adalah orang-orang non muslim. Konon di Jepang, tidak ada ada orang "menomblo tok" (melamun), tidak ada di sana. Kalau misalnya orang lagi nunggu apa selalu ada yang dia lakukan. Entah dia bawa buku, entah dia bawa apa laptop, atau bawa Ipad. Nulis sesuatu yang bermanfa'at.

Kalau kitakan sambil nunggu main games, kalau mereka baca, sesuatu yang bermanfa'at.

▪Ada seorang ulama namanya Abdul Wafa Ibnul Waqil. Dia itu berusaha bagaimana cara makan secepat mungkin, maksudnya tidak makan waktu yang banyak. Beliau membandingkan antara makan roti kering sama roti yang harus dibasahi. Perbedaannya, kata beliau, itu bisa untuk membaca 50 ayat Al Qurān, lebih cepat yang kering. Makanya beliau kalau makan itu selalu milih roti yang kering. Karena perbedaan waktu antara makan roti kering dengan roti yang tadi yang enak, yang dicampur apa dulu, itu bisa cukup untuk membaca 50 ayat.

Kalau kita?

Beliau sungguh luar biasa. Sampai bagaimana caranya supaya mengoptimalkan waktu yang beliau miliki.

Bahkan kisah yang terakhir ini akan saya bawakan ini lebih menakjubkan lagi.

▪Seorang ulama namanya Abdul Barakat Majduddin kalau ke kamar mandi, maaf, lagi buang hajat. Itukan kita tidak bisa ngapa-ngapain. Dzikir tidak boleh, baca Qur'an tidak boleh. Kalau beliau ini, kalau ke kamar mandi, beliau panggil saudaranya, "Tolong bacain buku di luar dengan suara yang keras." Supaya dia di dalam tidak melakukan apa-apa, tidak aktivitas, tidak berdzikir, tidak baca buku, tapi orang di luar supaya baca buku dengan suara yang keras. Dulu belum ada radio, kalau sekarang kita ada radio, suruh bacain, supaya apa?

Supaya waktu dia itu tidak terbuang sia-sia.

Dalam satu waktu dia melakukan dua aktivitas yang sama-sama bermanfa'at. Buang hajat bermanfa'at tidak? Oh, bermanfa'at sekali, dapat tambahan ilmu juga bermanfa'at. Jadi ini menunjukan bahwa berbagai aktivitas yang berbeda itu bisa dilakukan dalam waktu yang sama.


Prakteknya kaya apa ustadz?


==> Contoh, mencari nafkah.

Ketika kita sedang jualan di toko bisakah kita double dengan aktivitaz lainnya yang bermanfaat? Bisa apa ? Baca, ketika sedang tidak ada pembeli.

Coba sekarang perhatikan, perhatikan orang-orang di pasar, para penjual di pasar, berapa dari sekian ratus atau ribu pedagang di pasar, yang ketika waktu kosongnya itu baca Qur'ān? Kalau anda temukan aneh bin ajaib.

Kenapa?

Karena orang berfikirnya ini lagi dagang. Dagang ya dagang, kenapa dicampur-campur dengan baca Qur'ān. Loh kenapa sih mas? Tidak ada kontradiksi kok. Apakah kontradiktif jualan sambil baca Qur'an?


==> Contoh yang lain.

Jalinan silaturahim, ibadah atau bukan? Ibadah.

Kebanyakan dari kita mengisi silaturahim hanya sekedar dengan obrolan. Tidak apa-apa lepas kangen. Mbok ya sambil silaturahim sambil melakukan aktivitas yang lain. Ya, contohnya berdakwah, mengajak dia kepada kebaikan. Sehingga kita mendapatkan pahala double-double. Dalam satu waktu kita dapatkan pahala silaturahim sekaligus kita mendapatkan pahala berdakwah kepada jalan Allāh Subhanahu wa Ta'ala.

Sumber :
🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 09 Jumadal Akhir 1438 H / 08 Maret 2017 M
👤 Ustadz Abdullah Zaen, MA
📔 Materi Tematik | Tips Mengoptimalkan Waktu (Bagian 3 dari 4)
⬆ Link audio: bit.ly/BiAS-AZ-TipsMengoptimalkanWaktu-03
🌐 Sumber: https://youtu.be/t2SyhH8fsBE

TIPS MENGOPTIMALKAN WAKTU BAGIAN 2



Kita panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allāh Tabarākahu wa Ta'ala

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita, Nabi besar Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam, kepada para shahabatnya, keluarganya dan umatnya yang setia mengikuti tuntunannya hingga di akhir nanti.

Pada kesempatan yang berbahagia kali ini kita akan melanjutkan bagaimana cara mengoptimalkan waktu.


(2) JANGAN TUNDA PEKERJAAN ATAU AMALAN

Ini penyakit. Orang biasanya suka menumpuk-numpuk pekerjaan. Dan itu bukan hanya dalam pekerjaan duniawi saja. Contohnya, pekerjaan di kantor menumpuk, seharusnya bisa diselesaikan hari ini. Tapi, lha leyeh-leyeh bae, maca koran disik, esuk bae ikih (santai aja dulu, baca koran dulu, besok aja mengerjakannya).Biasanya, kita melakukan sesuatu mengejar (mendekati) deadline. Kalo deadlinenya besok baru sekarang ngebut. 

Sama kayak siswa-siswa, begitu juga kan? Para pelajar kan gitu juga, memakai SKS, sistem kebut semalam. Jadi, pelajaran setahun atau satu semester dikebut dalam semalam, dijamin besok setelah keluar (selesai) ujian, ilmu ne wis hilang, habis kabeh. Karena kalau ingin ilmunya kita dapatkan secara maksimal, memasukkan ilmu itu secara bertahap. 

Makanya sebagian ulama mengatakan :

منْ رَامَ علمة جُمْلَةً ذهبَ عنْهُ جملةً

"Barangsiapa yang mencari ilmu borongan, maka hilangnya juga borongan."

Jadi, kalo semalam kita ngebut belajarnya, dijamin ilangnya juga sebentar, cepat ilangnya. Itu dalam masalah ilmu. Dalam pekerjaan juga demikian, dalam amalan juga seperti itu. Oleh karena itu saya ingatkan, kenapa terasa berat mengamalkan ilmu?

Karena banyak diantara kita ketika mendapatkan ilmu tidak segera kita amalkan, tapi kita undur-undur. Itu salahnya. Akhirnya terasa berat, karena sudah menumpuk begitu banyak. Coba kalau kita dapat ilmu, misalnya cara mengoptimalkan waktu, langsung kita praktekkan. Bukan mulai besok, mulai ini saya langsung praktek. Jadi, saya punya waktu kosong, langsung diisi. Kemudian, saya punya pekerjaan apa, kalau memang ada waktu saat ini dan masih ada energi maka saya kerjakan. Ini namanya mengamalkan ilmu, sehingga terasa ringan. Itu dalam pekerjaan yang bersifat duniawi, seperti mencari ilmu yang bersifat umum. 

Dalam perkara ukhrowi, semisal ibadah, kita diperintahkan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam untuk mengamalkan, manfaatkan waktu kosong dan jangan mengundur-ngundur pekerjaan. Kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

بَادِرُوا بِالْأَعْمَال فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا 

"Bersegeralah kalian untuk beramal, sebelum datangnya fitnah yang gelap gulita, seseorang ketika pagi harinya masih mukmin, sore harinya kafir, sore harinya masih beriman, pagi harinya kafir, karena dia menukar agamanya dengan dunia." (Hadits riwayat Muslim nomor 118).

Itu perintah dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam. 

Jadi jangan suka mengundur-ngundur pekerjaan. Begitu ada waktu, kerjakan. Begitu ada waktu kosong, lakukan. Entah itu yang sifatnya duniawi atau ukhrowi, selama itu bermanfa'at, lakukan.

Kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:


بَادِرُوا بِالْأَعْمَال

"Bersegeralah kalian dalam beramal."


Kenapa wahai Rasul?

ِفِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ 

"Sebelum datangnya fitnah yang gelap gulita."


Seperti apa ustadz?

Kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam :

يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا 

"(Kalau sudah datang masa fitnah), seseorang ketika pagi harinya masih mukmin, sore harinya kafir (murtad dari agama ini)."

Atau sebaliknya :

أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا 

"Sore harinya masih berislam, masih beriman, pagi harinya sudah kafir (keluar dari agama islam)."

Fitnah, kenapa? 

Kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam :

يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا

"Karena dia menukar agamanya dengan dunia (materi)."


Makanya, ketika ada pekerjaan segera lakukan. Berarti kita disuruh untuk melakukan pekerjaan amalan yang banyak? Iya, sebanyak-banyaknya. 

Tapi jangan cuma banyaknya saja, perhatikan kualitasnya, jadi tidak hanya sekedar kuantitasnya, sing akeh amalane. Perhatikan kualitasnya juga.

Kualitas itu seperti apa ustadz, contohnya? 

Amalan itu akan semakin afdhal ketika pas meletakkan amalan itu sesuai dengan waktu dan tempatnya. Ada beberapa amalan yang kalau melakukan amalan itu pada pas waktu yang telah ditetapkan, maka itu menjadi amalan yang sangat afdhal. Contoh, begitu datang waktu shalat, yang paling afdhal dilakukan saat itu adalah shalatnya. 

Sudah adzan, "Aku arep sedekah disiklah (aku mau sedekah dululah)." Nah, ini adalah tidak melakukan amalan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan oleh oleh agama kita.

Contoh lain misalnya, habis shalat, yang paling afdhal apa?  Dzikir.  Kalau misalnya ada orang habis shalat langsung ambil Qurān, baca Qurān, gimana? Kurang fokus. Padahal membaca Al Qurān itu pahalanya besar gak? Besar. api habis shalat, langsung. Mana yang lebih afdhāl? Dzikir.

Ini melakukan amalan pas sesuai dengan waktu. Inilah yang akan meningkatkan kualitas amalan seseorang hamba.

Yang terkait dengan masalah ini ada sebuah buku bagus. Bukunya judulnya adalah "Tajridul Iththiba' Fī Bayāni Asbabbi Tafadhalil A'māl", karya Syeikh Ibrāhim bin Amir Ar Ruhailī. 

Buku ini menjelaskan amalan-amalan yang afdhal sesuai dengan waktu-waktunya yang sudah ditetapkan oleh agama kita. Dan diantara amalan-amalan itu mana yang paling afdhal. Itu dijelaskan dalam buku tersebut.

Sumber : 
🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 08 Jumadal Akhir 1438 H / 07 Maret 2017 M
👤 Ustadz Abdullah Zaen, MA
📔 Materi Tematik | Tips Mengoptimalkan Waktu (Bagian 2 dari 4)
⬇ Link audio: bit.ly/BiAS-AZ-TipsMengoptimalkanWaktu-02
🌐 Sumber: https://youtu.be/t2SyhH8fsBE

TIPS MENGOPTIMALKAN WAKTU BAGIAN 1


Kita panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allāh Tabarāka wa Ta'ala

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam, kepada para shahabatnya, keluarganya dan umatnya yang setia mengikuti tuntunannya hingga akhir nanti.

Pada kesempatan kali ini, in syā Allāh kita memperlajari bagaimana cara mengoptimalkan waktu.

Bagaimana supaya waktu kita optimal, sehingga dengan waktu yang sama kita bisa meraih sesuatu yang lebih banyak dibandingkan orang lain.

Ada beberapa point in syā Allāh, kita mulai dengan point yang pertama.


(1) JANGAN MEMBIARKAN WAKTU KITA KOSONG TANPA AKTIVITAS YANG BERMANFAAT

Kalau sekedar aktivitas, ya ada aktivitas. Ngelamun juga aktitas. Tapi yang kita maksud di sini adalah, kalau seandainya ada waktu kita yang kosong segera isi dengan sesuatu yang bermanfa'at, apapun itu. Bermanfa'at buat dunia kita atau untuk akhirat kita.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla dalam Al Qurān, surat Al Insyirāh ayat 7 memotivasi kita. Kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ

"Kalau kamu sudah selesai melakukan suatu pekerjaan, maka lanjutkan dengan pekerjaan lainnya."

Dan ini konotasinya bukan dalam perkara duniawi. Dan bukan berarti dalam agama kita tidak mengenal adanya istirahat, Ada, cuman istirahat di dalam konteks agama kita itu bukan hanya sekedar tidur terus,tidak,yang namanya hiburan dalam agama kita ada, refreshing ada. Tetapi tidak refreshing yang berbau negatif. 

Dalam hadist Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam juga sama. Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah bersabda:

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغُلِكَ وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

"Manfa'atkanlah 5 perkara sebelum datangnya 5 perkara, waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, hidupmu sebelum datang matimu."(Hadits riwayat Al Hakim dalam Mustadraknya 4:341, dishahihkan oleh beliau dan Syaikh Al Albani).

Kita sebutkan yang terkait dengan pelajaran kita saja. Kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغُلِكَ

"Manfa'atkanlah waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu."

Jadi, Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam memerintahkan kepada kita, agar waktu kosong itu segera dimanfa'atkan sebelum datangnya waktu sibuk. 

Supaya apa? 

Supaya hal-hal yang kosong itu tidak diisi dengan sesuatu yang negatif.

Kenapa Allāh Subhānahu wa Ta'āla di dalam Al Qur'an memerintahkan kita, kalau sudah selesai pekerjaan segera diiringi dengan pekerjaan yang lain? 

Kenapa Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam memerintahkan kita, agar dimanfa'atkan sebelum datangnya waktu sibuk?

Karena waktu kosong biasaya akan mendatangkan hal-hal yang sifatnya negatif. 

Kalau tidak percaya, lihat saja pengangguran, ketika angka pengangguran di sutau tempat naik, biasanya angka kriminalitas juga naik. 

Karena bingung, mau apa. Karena tidak ada kerjaan. 

Ketika otak ini kosong, maka yang muncul adalah sesuatu-sesuatu yang sifatnya negatif. Makanya perkataan penyair:

 وَنَفْسُكَ إِنْ لَمْ تُشْغِلْهَا بِالحَقْ (بِالخْيْرِ) شَغَلَتْكَ بِالبَاطِلِ (بِالشَّرِّ) 

"Diri kita ini kalau tidak kita sibukkan dengan kebaikan, maka dia akan menyibukkan kita dengan keburukan."

Jadi, kalau misalnya kita tidak manfa'atkan waktu kita dengan kebaikan, maka syaitan akan masuk di situ dan akan memprovokasi kita untuk melakukan yang jelek-jelek.

Kenapa? 

Zulaikhah menggoda Nabi Yusuf. Nabi Yusuf ganteng.

Ada sebab lainnya? 

Ada, yaitu kesempatan. 

Kenapa Zulaikhah kepikiran untuk menggoda Nabi Yusuf? Padahal Nabi Yusuf bisa dikatakan sekedar anak yang ditemukannya. 

Kenapa Zulaikhah sampe kepikiran seperti itu? 

Karena kosongnya jiwa. Karena jiwanya kosong dan jiwanya kosong itu bersumber dari kosongnya aktivitas. 

Makanya, jika misalnya anda mempunyai anak dan anak tersebut selalu melakukan hal-hal negatif, sibukkan dia dengan hal-hal yang positif, karena anak itu punya energi esktra. Nah energi ekstra itu kalau tidak disalurkan kepada yang positif maka akan disalurkan kepada hal yang negatif. 

Isi waktu-waktu kosong kita dengan sesuatu yang bermanfa'at. 

Maka, kalau misalnya ketika saat itu kita sedang luang, katakanlah sedang istirahat, maka jangan biarkan kita itu hanya sekedar melamun saja. 

Terus ngapain ustadz? 
Masak kerja? 

Tidak, yang namanya aktifitas itu tidak mesti aktivitas fisik. Kita aktifkan otak kita, kita coba mikir dosa-dosa kita sudah banyak. Apakah memikirkan dosa itu membutuhkan kerja kaki tangan?  Kan tidak. 

Cuma butuh apa? Butuh tafakkur. 

Ya. Butuh kita berfikir, membayangkan dosa-dosa kita. Bekal kita sudah seberapa, sehingga waktu istirahat itu bisa kita optimalkan untuk sesuatu yang bermanfa'at. 

Atau misalnya waktu istirahat sebelum tidur. Kok tidak bisa tidur-tidur. 

Daripada kemudian main facebook yang ndak jelas, SMS ke sana kemari, mendingan buat apa? Buat ngerancang.  

Rencana saya besok apa, 10 tahun lagi saya mau jadi apa. Dirancang gitu sambil mikir-mikir, tidak mesti harus ditulis. Pertama kali, yang penting dibayangkan; biar apa? Nanti lama-lama kan tidur, tidur mimpinya enak gitu kan, mimpi sudah jadi pengusaha misalnya, kan enak tidurnya. 

Karena apa? Karena sebelumnya kita berpikir sesuatu yang positif.

Ini adalah point yang pertama, jangan biarkan waktu kosong tanpa aktivitas.

Sumber :
🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 07 Jumadal Akhir 1438 H / 06 Maret 2017 M
👤 Ustadz Abdullah Zaen, MA
📔 Materi Tematik | Tips Mengoptimalkan Waktu (Bagian 1 dari 4)
⬇ Link audio: bit.ly/BiAS-AZ-TipsMengoptimalkanWaktu-01
🌐 Sumber: https://youtu.be/t2SyhH8fsBE

JANGAN TUNDA HINGGA ESOK BAGIAN 2


Seorang hamba mukmin, dia mengerti bahwa Allāh Subhānahu wa Ta'āla bisa saja mencabut nyawanya. Dapat saja mengambil jiwanya, ruhnya, kapan saja, maka tentunya dia tidak akan berleha-leha, dia tidak akan santai ria. Dia akan bersegera, berupaya, berusaha, mengejar rahmat Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Ketahuilah kita hidup di antara dua masa, masa lalu dan masa yang akan datang. Masa lalu tidak dapat kita putar kembali, sementara masa yang akan datang tidak dapat kita tarik, kita bisa mengisi ketiga masa ini, masa lalu kita isi dengan taubat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla dengan benar-benar bertaubat, taubatan nashūhā, itulah cara mengisi masa lalu.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengatakan:

إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ

"Kecuali yang bertaubat (kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla) kemudian dia mengiringi taubatnya dengan iman dan amal shalih, maka merekalah orang-orang yang Allāh Subhānahu wa Ta'āla ganti keburukan-keburukan dan dosa-dosa mereka menjadi pahala/kebaikan." (QS Al Furqan: 70).

Ibnu Katsir, ketika menafsirkan ayat ini mengatakan, ada dua tafsiran dalam ayat ini:

(1) Tafsiran yang pertama, Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengganti amalan-amalan buruk dia dengan amal shalih.

- Jika dulu dia mencuri, merampas harta orang lain, kemudian setelah bertaubat dia rajin bershadaqah.

- Jika dulu dia bermalas-malasan mengerjakan shalat, setelah taubat dia serius dan sungguh-sungguh melaksanakan shalat dengan khusyuk.

- Jika dulu dia mengabaikan hak-hak orang tuanya, dia durhaka, dia kasar kepada orang tua, maka setelah taubat dia menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya.

Jadi Allāh Subhānahu wa Ta'āla ganti perbuatan-perbuatan buruknya menjadi perbuatan-perbuatan baik.


(2) Tafsiran kedua, Allāh Subhānahu wa Ta'āla akan mengganti tabungan-tabungan dosanya menjadi tabungan pahala.

Itulah cara kita mengisi masa lalu, yaitu dengan bertaubat, taubatan nashūhā kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ

"Bertaubatlah kamu seluruhnya kepada Allāh, wahai orang-orang yang beriman." (QS An Nūr: 31).

Taubatan nashūhā, taubat yang sungguh-sungguh. Itulah cara mengisi masa lalu kita.

Adapun masa yang akan datang, kita isi dengan ber-azam untuk tidak kembali melakukan perbuatan dosa dan maksiat tersebut. Kita sungguh-sungguh menghentikan diri dari perbuatan dosa itu.

Yang lebih berat adalah mengisi dan memanfa'atkan waktu sekarang ini, memanfaatkan waktu untuk beramal shalih pada hari ini, itulah yang sangat berat.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan:

كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا

"Setiap manusia berangkat di pagi hari, maka ada yang menjual dirinya sehingga membebaskannya atau membinasakannya." (Hadits riwayat Muslim nomor 223).

"Setiap manusia keluar melanjutkan perjalanan hidupnya, dia mempertaruhkan jiwa raganya. Ada yang membebaskan dirinya dari cengkraman dan belenggu syaithan dan ada pula yang melemparkan dirinya kepada kebinasaan, mencelakakan dan membinasakan dirinya sendiri."

Demikianlah, setiap manusia melanjutkan perjalanannya.

لِمَن شَاءَ مِنكُمْ أَن يَتَقَدَّمَ أَوْ يَتَأَخَّرَ

"Barangsiapa di antara kamu ingin maju atau ingin mundur." (QS Al Muddatstsir: 37).

Kehidupan tidak berhenti, terus berjalan. Hanya saja pilihan ada di tangan kita, apakah kita mau maju atau mau mundur. Allāh Subhānahu wa Ta'āla telah membeli dari diri-diri orang yang beriman, jiwa dan harta mereka dengan surga.

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ

"Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta'āla telah membeli orang-orang yang beriman, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka." (QS At Taubah: 111).

Kita tahu bahwa surga Allāh Subhānahu wa Ta'āla itu sangat mahal, surga tidak bisa terbeli dengan amal ibadah yang kita kumpulkan. Bahkan dengan amal ibadah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam sekalipun. Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak dapat membeli surga dengan amal ibadahnya. Maka dari itu hendaknya kita bisa menjadi orang-orang yang membebaskan diri kita dari api neraka dan meraih surga Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Beramallah hari ini !

Jika kamu mendapati pagi hari, jangan tunggu sore hari.

Jika kamu mendapati sore hari, jangan tunggu pagi hari.

Segeralah beramal, jangan tunda-tunda beramal.

Sungguh, waktu ini adalah kesempatan yang Allāh Subhānahu wa Ta'āla berikan kepada kita.


Abdullāh bin 'Umar radhiyallāhu 'anhumā mengatakan:

إِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تُحَدِّثْ نَفْسَكَ بِالْمَسَاءِ وَإِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تُحَدِّثْ نَفْسَكَ بِالصَّبَاحِ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

"Jika kamu mendapati pagi hari, maka jangan kau bisikan pada dirimu (bisa peroleh) sore hari dan jika kamu mendapati sore hari, maka jangan kau bisikan pada dirimu (bisa peroleh) pagi hari. Manfa'atkanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu dan manfa'atkanlah masa hidupmu sebelum datang ajal kematianmu." (Hadits riwayat Tirmidzi nomor 2333).

Waktu adalah suatu nikmat yang sangat berharga. Sungguh celaka dan binasalah, merugilah orang-orang yang menyia-nyiakan waktunya.

وَالْعَصْرِ (١)  إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر

"Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, saling memberi nasihat di atas kebenaran dan saling berwasiat di atas kesabaran." (QS Al 'Ashr: 1-3).

Demikianlah sahabat yang berbahagia, coba tanya kepada diri kita, apa yang sudah kita lakukan pada hari ini?

Amal shalih apa yang sudah kita lakukan pada hari ini ? 
Apakah hari ini kita lebih baik daripada hari kemarin ?

Teruslah berusaha.

احرص على ما ينفعك

"Berusalah untuk meraih apa-apa yang bermanfaat bagimu."

Jadilah manusia yang terbaik bagi orang lain.

خيرُ الناسِ أنفعُهم للناسِ

"Sebaik baiknya manusia adalah manusia yang paling bermanfa'at bagi manusia lainnya." (HR Ahmad, Ath Thabrani, Ad Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh Al Albani di dalam Shahihul Jami’ nomor 3289).

Demikianlah, mudah-mudahkan pesan yang singkat ini menggugah perasaan kita semua, hati kita semua. Dan mendorong kita untuk berlomba-lomba untuk beramal shalih, meraih surga Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla mudahkan jalan kita semua menuju surga Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan menjadikan kita hamba-hamba yang beruntung, hamba-hamba yang bahagia, mendapatkan kebaikan di dunia dan kebahagian nantinya di akhirat.

Wabillahit taufiq wal hidayah
Waasalamu 'alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

sumber :
🌍 BimbinganIslam.com
Sabtu, 12 Jumadal Akhir 1438 H / 11 Maret 2017 M
👤 Ustadz Abu Ihsan Al-Maidany, MA
📔 Materi Tematik | JANGAN TUNDA HINGGA ESOK (Bagian 2 dari 2)
⬆ Link audio: bit.ly/BiAS-AI-JanganTundaHinggaEsok-02
🌐 https://yufid.tv/3759-jangan-tunda-hingga-esok-ustadz-abu-ihsan-al-maidany-ma.html

 
Copyright © 2015 Kajian Hasan Hamzah Lubis. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger