Imam
Asy Syafii
ABU ʿAbdullāh Muhammad bin Idrīs al-Shafiʿī atau
Muhammad bin Idris asy-Syafi`i yang akrab dipanggil Imam Syafi’i adalah seorang
mufti besar Sunni Islam dan juga pendiri mazhab Syafi’i. Imam Syafi’i juga
tergolong kerabat dari Rasulullah, ia termasuk dalam Bani Muththalib, yaitu
keturunan dari al-Muththalib, saudara dari Hasyim, yang merupakan kakek
Muhammad.
Inilah
perkataan imam Syafi’i soal Syiah:
1.
Dari Yunus bin Abdil A’la, beliau berkata: Saya telah mendengar Asy-Syafi’i,
“apabila disebut nama Syi’ah Rafidhah,maka ia mencelanya dengan sangat keras,
dan berkata: “Kelompok terjelek! (terbodoh)”. (al-Manaqib, karya al-Baihaqiy,
1/468. Manhaj Imam Asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2/486).
2.
Al-Imam Asy-Syafi’i berkata: “Saya belum melihat seorang pun yang paling
banyakbersaksi/bersumpah palsu (berdusta) dari Syi’ah Rafidhah.” (Adabus
Syafi’i, m/s. 187, al-Manaqib karya al-Baihaqiy, 1/468 dan Sunan al-Kubra,
10/208. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2/486).
3.
Al-Buwaitiy(murid Imam Syafi’i) bertanya kepada Imam Syafi’i, “Bolehkah aku
shalat di belakang orang Syiah?” Imam Syafi’i berkata, “Jangan shalat di
belakang orang Syi’ah, orang Qadariyyah, dan orang Murji’ah” Lalu Al-Buwaitiy
bertanya tentang sifat-sifat mereka, Lalu Imam Syafi’i menyifatkan, “Siapa saja
yang mengatakan Abu Bakr dan Umar bukan imam, maka dia Syi’ah”. (Siyar A’lam
Al-Nubala 10/31).
4.
Asy-Syafi’i berkata tentang seorang Syi’ah Rafidhah yang ikut berperang: “Tidak
diberi sedikit pun dari harta rampasan perang, kerena Allah menyampaikan ayat
fa’i (harta rampasan perang), kemudian menyatakan: Dan orang-orang yang datang
sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri
ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari
kami”. (Surah al-Hasyr, 59: 10), Maka barang siapa yang tidak menyatakan
demikian, tentunya tidak berhak (mendapatkan bahagian fa’i).” (At-Thabaqat,
2/117. Manhaj Imam Asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2/487).
5.
Imam As-Subki Rahimahullah berkata, ‘Aku melihat di dalam al-Muhith dari
kitab-kitab Hanafiah, dari Muhammad (bin Idris as-Syafi’i) bahwa tidak boleh
shalat di belakang Rafidhah.’ (Fatawa
as-Subki (II/576), lihat juga Ushulud Din (342)).
ULAMA ULAMA BESAR AHLUSSUNNAH
1.
Al-Imam ‘Amir Asy-Sya’bi berkata: “Aku tidak pernah melihat kaum yang lebih
dungu dari Syi’ah.” (As-Sunnah, 2/549, karya Abdullah bin Al-Imam Ahmad).
2.
Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri ketika ditanya tentang seorang yang mencela Abu Bakr
dan ‘Umar, beliau berkata: “Ia telah kafir kepada Allah.” Kemudian ditanya:
“Apakah kita menshalatinya (bila meninggal dunia)?” Beliau berkata: “Tidak,
tiada kehormatan (baginya)….” (Siyar A’lamin Nubala, 7/253).
3.
Al-Imam Malik ketika ditanya tentang mereka beliau berkata: “Jangan kamu
berbincang dengan mereka dan jangan pula meriwayatkan dari mereka, karena
sungguh mereka itu selalu berdusta.” (Mizanul I’tidal, 2/27-28, karya Al-Imam
Adz-Dzahabi).
4.
Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Aku tidak melihat dia (orang yang mencela
Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Aisyah) itu orang Islam.” (As-Sunnah, 1/493, karya
Al-Khallal).
5.
Al-Imam Al-Bukhari berkata: “Bagiku sama saja apakah aku shalat di belakang
Jahmi, dan Rafidhi atau di belakang Yahudi dan Nashara (yakni sama-sama tidak
boleh ).
Mereka
tidak boleh diberi salam, tidak dikunjungi ketika sakit, tidak dinikahkan,
tidak dijadikan saksi, dan tidak dimakan sembelihan mereka.” (Khalqu Af’alil
‘Ibad, hal. 125).
6.
Al-Imam Abu Zur’ah Ar-Razi berkata: “Jika engkau melihat orang yang mencela
salah satu dari shahabat Rasulullah, maka ketahuilah bahwa ia seorang zindiq.
Yang demikian itu karena Rasul bagi kita haq, dan Al Qur’an haq, dan
sesungguhnya yang menyampaikan Al Qur’an dan As Sunnah adalah para shahabat
Rasulullah. Sungguh mereka mencela para saksi kita (para shahabat) dengan
tujuan untuk meniadakan Al Qur’an dan As Sunnah. Mereka (Rafidhah) lebih pantas
untuk dicela dan mereka adalah zanadiqah.” (Al-Kifayah, hal. 49, karya
Al-Khathib Al-Baghdadi).
7.
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah telah berkata: “Dan sungguh telah sepakat ahli
ilmu dalam bidang naql, riwayat dan sanad,bahwasanya Rafidhah adalah yang
paling pendusta dari kalangan kelompok-kelompok (yang sesat), berbohong
terdapat dalam diri mereka sudah sejak lama, oleh karena inilah para imam-imam
Islam menggelarkan keistimewaan mereka dengan sering (banyak) berdusta.
Lajnah
Daimah Lil Iftak (Lembaga Tetapuntuk Fatwa) di Kerajaan Saudi Arabia pernah
ditanya dengan satu pertanyaan, dalam pertanyaan itu penanya mengatakan bahwa
ia dan sekelompok teman bersamanya berada di perbatasan utara berdekatan dengan
cek point negara Iraq. Di sana ada sekelompok penduduk yang bermadzhab Al
Ja’fariyah, dan diantara mereka (kelompok penanya) ada orang yang enggan untuk
memakan sembelihan penduduk itu, dan diantara mereka ada yang makan, maka kami
bertanya: Apakah halal bagi kami untuk memakan sembelihan mereka, ketahuilah
sesungguhnya mereka berdoa minta tolong kepada Ali, Hasan dan Husain serta
seluruh pemimpin-pemimpin mereka di dalam keadaan sulit dan keadaan lapang ?
Lalu Lajnah (lembaga) yang diketuai oleh Syeikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin
Baz dan (anggota-anggotanya); Syeikh Abdul Razaq ‘Afifi, Syeikh Abdullah bin
Ghudayan, dan Syeikh Abdullah bin Qu’uud, semoga Allah memberi pahala kepada mereka
semua.
Jawabannya
: Segala puji bagi Allah semata, dan shalawat dan salam semoga dianugerahkan
kepada rasul-Nya dan keluarga beliau serta sahabat-sahabatnya, dan adapun
selanjutnya:Jika permasalahannya seperti yang disebutkan oleh penanya, bahwa
sesungguhnya jamaah (kelompok) yang memiliki ajaran Ja’fariyah, mereka berdo’a
dan meminta tolong kepada Ali, Hasan dan Husain serta pemimpin-pemimpin mereka,
maka mereka itu adalah orang-orang musyrik murtad, keluarr dari agama Islam,
semoga Allah melindungi kita dari itu, tidaklah halal memakan sembelihan
mereka, karena sembelihan itu adalah bangkai, walaupun mereka menyebut nama
Allah saat menyembelihnya.”
Syeikh
Abdullah bin Abdurrahman
Al
Jibrin ditanya, : wahai syeikh yang
mulia, di negeri kami terdapat seorang rafidhah (bermadzhab syi’ah rafidhah)
bekerja sebagai tukang sembelih, maka ahlusunnah datang kepadanya untuk
menyembelih sembelihan mereka, dan begitu juga sebagian rumah makan, bekerja
sama dengan orang rafidhah ini, dan dengan rafidhah lainnya yang berprofesi
sama, apakah hukumnya bertransaksi atau berkoneksi dengan orang rafidhah ini
dan semisalnya? Apakah hukum sembelihannya, apakah sembelihannya halal atau
haram, berikanlah kepada kami fatwa, semoga syeikh diberi pahala oleh Allah.
Beliau
menjawab Wa’alaikum salam warahmatullah wabarakatuh wa ba’du: Tidaklah halal
sembelihan orang rafidhah, dan juga memakan sembelihannya, sesungguhnya orang
rafidhah pada umumnya adalah orang-orang musyrik, dimana mereka selalu menyeru
Ali bin Abi Thalib di waktu sempit dan lapang, sampai di Arafah dan saat tawaf
dan sa’i, mereka juga menyeru anak-anak beliau dan imam-imam mereka seperti
yang sering kita dengar dari mereka, perbuatan ini adalah syirik akbar dan
keluar dari agama Islam yang berhak dihukum mati atasnya.
Sebagaimana mereka sangat
berlebih-lebihan dalam menyifati Ali, mereka menyifati beliau
dengan sifat-sifat yang tidak layak
kecuali hanya untuk Allah, sebagaimana kita mendengarnya dari
mereka di Arafah, dan mereka disebabkan perbuatan itu
telah murtad, yang mana mereka telah
menjadikannya sebagai Rabb, Sang Pencipta, dan Yang mengatur Alam, Yang mengetahui ghaib, yang menguasai kemudaratan dan manfaat, dan
semisal itu.
Dan sebagaimana mereka mencela Al
Quran,
mereka mendakwakan bawah para sahabat
telah merubah, menghilangkan dari Al Quran
ayat-ayat yang banyak berhubungan dengan
Ahlu Bait dan musuh-musuh mereka, lalu mereka tidak
berpedoman kepada Al Quran dan
mereka tidak memandangnnya sebagai dalil dan
argumen.
Sebagaimana mereka mencela pemuka-pemuka
sahabat,
seperti tiga orang khalifah rasyidin, dan selain mereka
dari orang yang diberi kabar
gembira jaminan masuk surga, para umul mukminin (istri-istri
rasulullah),
para sahabat yang terkenal, seperti Anas, Jabir, Abu Hurairah dan semisalnya, maka
mereka tidak menerima hadits-hadits para sahabat
tersebut,
karena mereka itu orang kafir
menurut dakwaan mereka, mereka tidak mengamalkan hadits-hadits
di Bukhari Muslim kecuali yang
berasal dari Ahlu Bait.Mereka bergantung dengan
hadits-hadits palsu atau hadits-hadits
yang di dalamnya tidak ada bukti
atas apa yang mereka katakan. Akan
tetapi walaupun demikian, mereka itu adalah bersikap munafik, maka
mereka mengucapkan dengan lidah mereka
apa yang tidak ada pada
hati mereka (yang tidak mereka yakini), mereka menyembunyikan di
diri mereka apa yang tidak
mereka tampakkan kepadamu, mereka berkata : barangsiapa tidak bersikap Taqiyah (nifaq) maka
tidak ada agama baginya. Maka dakwaan mereka
itu tidak bisa diterima dalam ukhwah
persaudaraan,
dan dakwaan mereka akan cinta
syari’at… dan seterusnya. Sikap nifaq adalah merupakan akidah
bagi mereka. Semoga Allah menjaga (kita) dari kejelekan mereka, semoga Allah menganugerahkan shalawat dan
salam keada Muhammad, dan keluarga beliau serta para
sahabatnya.
Amin ya Robbal Alamiin.
![]() |
Disalin dari Ebook ” Diantara Aqidah Syiah – Menguak Kesesatan Aqidah
Syiah “(hal.65-75) Oleh: Syaikh Abdullah bin
Muhammad as-Salafy.

Posting Komentar