Oleh : Ust. Ghazali Mukhtar ST
Merokok telah menjadi budaya bagi
bangsa Indonesia. Budaya yang buruk lagi memalukan seharusnya. Sehingga lelaki
yang tidak merokok biasanya mencukupi syarat untuk dinilai baik di
masyarakatnya. Rokok telah menjadi barang yang paling mudah didapati melebihi
barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Seolah-olah rokok telah menjadi bagian
yang tak terpisahkan dari masyarakat kita. Sehingga sulit rasanya m
encari rumah
yang tak punya asbak rokok, bahkan sekalipun anggota keluarga tersebut tidak
ada yang merokok. Sulit dijumpai warung, kedai, rumah makan dan tempat-tempat
lain yang tidak menjual rokok.
![]() |
Padahal bahaya yang dapat
ditimbulkan rokok telah banyak diketahui masyarakat. Bahaya-bahaya tersebut
bukanlah bahaya yang kecil, bahkan sebagiannya dapat mengakibatkan nyawa
melayang. Kangker paru-paru, gangguan jantung, hipertensi, kelainan pada janin,
impotensi adalah nama-nama penyakit yang mengerikan yang diakibatkan merokok.
Peringatan itu pun tertulis di tempat yang dapat dengan mudah dilihat oleh
perokok yaitu di bungkus rokok dan iklan-iklan rokok. Akan tetapi istilah
“Tuhan Kecil” bagi rokok untuk para perokok nampaknya ada benarnya. Karena bagi
mereka merokok bukan hanya kegiatan yang sakral yang harus mereka penuhi
jadwalnya setiap hari tetapi juga hal yang sangat sensitive untuk dibicarakan.
Merokok seakan telah menjadi dogma yang tak boleh diperbincangkan tetapi harus
diterima walau apapun resikonya. Sebagian para perokok bahkan memilih dilarang
makan dari pada tidak diperbolehkan merokok.
Sebegitu hebatnya kecintaan para
perokok di Indonesia ini sehingga mereka bukan saja tak mengindahkan bahaya
rokok yang akan menerpa tubuh jasmani mereka. Bahkan mereka tak lagi
menghiraukan peri laku buruk yang timbul akibat kebiasaan merokok.
Kebiasan-kebiasan yang mengganggu dan merugikan sekeliling mereka.
Kebiasan-kebiasan yang mempermalukan diri mereka sendiri. Ketidak pedulian ini
mungkin didukung karena kebanyakan orang di lingkungan kita adalah perokok.
Seolah-olah berlaku prinsip “keburukan yang dilakukan oleh orang banyak menjadi
kebaikan”.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an :
“Hai sekalian
manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan
janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; Karena Sesungguhnya syaitan
itu adalah musuh yang nyata bagimu”. (QS: Al-Baqarah; ayat: 168).
Adapun kebiasan-kebiasan buruk para
perokok itu diantaranya ialah :
1. Para perokok
lebih senang membiarkan dirinya jatuh dalam kebinasaan secara sadar dari pada
harus menghentikan kebiasaannya.
2. Para perokok
bersikap egois dengan membiarkan lingkungannya rusak karena dirinya.
Orang-orang terganggu karena asap yang ditimbulkan. Anak-istri terancam kangker
karena menjadi perokok pasif. Bayi-bayi yang lahir membawa penyakit bahkan
cacat. Lingkungan menjadi kotor karena puntung rokok berserakan. Seringkali api
dari rokok merusak baju orang yang berdekatan dengan perokok. Bahkan kadang
puntung rokok bisa menyebabkan kebakaran.
3. Para perokok
cenderung merusak kenyamanan fasilitas umum seperti toilet umum, angkot, masjid
dan lain-lain.
4. Anak-anak
perokok sebagiannya terhenti proses pendidikannya dengan alasan orang tuanya
tidak punya uang. Padahal jumlah uang yang dibelanjakan orang tuanya untuk membeli
rokok melebihi kebutuhan anaknya sekolah. Rata-rata perokok membelanjakan Rp
400.000,- uangnya sebulan untuk membeli rokok. Sedangkan uang kuliah di Medan
masih banyak yang satu jutaan rupiah setahun.
5. Para perokok
tidak merasa malu merokok di depan orang banyak. Artinya mereka tidak merasa
malu melakukan perbuatan buruk.
6. Banyak orang
berkata : “Orang jahat pun tak menginginkan anaknya jadi jahat”. Artinya
orang-orang yang tahu bahwa perbuatannya salah tidak ingin melihat anaknya
jatuh pada kesalahan yang sama apa lagi meniru perbuatan salahnya. Akan tetapi
para perokok mengetahui akibat buruk merokok yang luar biasa, namun mereka
membiarkan anak-anak mereka melihat perbuatan buruk mereka yakni merokok.
Padahal merokok adalah pintu gerbang menuju narkoba.
7. Para perokok
merasa bangga dan senang bisa bersedekah rokok kepada orang lain. Seolah-olah
mereka telah berbuat baik kepada orang lain. Sesungguhnya mereka telah berbagi
keburukan atau menjerumuskan orang lain. Mereka telah melakukan keburukan dan
menajak atau memfasilitasi keburukan pula.
8. Para perokok
yang kebetulan menjadi ustadz berperilaku memalukan dengan merokok di dalam
mesjid dan di depan jama’ahnya. Bila ditanyakan kepada mereka hukumnya tanpa
malu mereka menjawab “haram” atau sebagian besar “makruh”. Seolah-olah hal yang
makruh atau haram itu hal yang boleh dibanggakan.
9. Ada juga perokok
yang menjadi guru merokok di depan kelas sambil mengancam para muridnya bila
kedapatan merokok. Mengatakan dengan lantang bahwa dia sedang berbuat keburukan
yang tidak pantas ditiru.
10. Para perokok
yang masih pelajar tak kalah buruknya. Mereka bergaya laksana bintang iklan di
depan umum dan di dalam angkot-angkot seolah-olah rokok telah menjadikan mereka
lebih gagah dari orang yang tidak merokok. Mereka mengejek orang yang tidak
merokok dengan menyebutnya sebagai banci. Namun tatkala mereka melihat atau
berjumpa dengan orang tuanya seketika mereka lari terbirit-birit atau segera
membuang rokonya walau baru sekali hisapan.
11. Para perokok
pelajar juga banyak yang menggelapkan uang sekolahnya. Kadang mereka berbagi
satu batang rokok. Mereka juga rela meninggalkan jam kelas demi arisan rokok
atau bersembunyi di toilet. Dan yang lebih parahnya lagi terkadang mereka
mengais puntung rokok yang telah dibuang orang lain.
12. Terakhir dari
yang saya ketahui, para penjual rokok pun seharusnya merasa malu. Mereka telah
menjual barang yang berakibat buruk bagi manusia dan lingkungan sekitarnya.
Mereka menjual rokok kepada anak-anak padahal ada aturan yang melarang menjual
rokok kepada anak di bawah usia 18 (delapan belas) tahun. Baik anak itu membeli
untuk dirinya atau untuk orang lain.
Demikianlah
bahwa setiap yang haram di sisi Allah atau yang dibencinya pasti menimbulkan
hal yang buruk bagi diri pelaku maupun lingkungannya. Anadai pun kita belum
tahu akibat buruknya itu minimal kita meyakininya bahwa sesuatu yang buruk di
sisiNya pasti berakibat buruk pula. Dan untuk orang-orang yang sholeh hendaklah
mereka senantiasa mengingatkan umat akan bahaya kebiasan-kebiasan buruk.
Apabila sulit bagi kita mengingatkan masyarakat banyak minimal kita
mengingatkan orang-orang terdekat kita. Orang-orang yang kita kasihi,
orang-orang yang berjasa bagi kehidupan kita, orang-orang yang senantiasa
menemani kita dalam mengarungi kehidupan ini, dan terutama orang-orang yang
Allah Ta’ala mengamanahkan kepada kita untuk dipimpin, baik di rumah, di kantor
atau di masyarakat.
Firman Allah : “Hai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang
kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya
kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.(Q.S: At-Tahrim;
ayat : 6).
Firman Allah
Ta’ala juga : “Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus
menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan Ketahuilah bahwa Allah
amat keras siksaan-Nya”.(QS: At-Taubah; ayat: 25).
Di akhir tulisan ini mohon maaf saya
mengambil perumpamaan yang buruk, dan tidak ada yang saya inginkan dari
perumpamaan ini kecuali kebaikan bagi anda, saya dan kita semua. Orang berkata
: “Binatang yang paling buruk adalah babi”. Kenapa? Karena binatang ini memakan
segalanya bahkan kotorannya sendiri. Akan tetapi binatang ini tidak mau makan
daun tembakau.
Semoga Allah
menjadikan kita umat yang mencintai kebaikan dan tidak ada yang kita cintai
kecuali kebaikan saja. Amin.

Posting Komentar