NASEHAT    KHUTBAH    ADAB    SIROH    FATWA    SYI'AH    BAHASA ARAB    PENYEJUK HATI    DO'A DAN ZIKIR   
Home » » SIKAP BURUK PARA PEROKOK

SIKAP BURUK PARA PEROKOK

Oleh : Ust. Ghazali Mukhtar ST
       Merokok telah menjadi budaya bagi bangsa Indonesia. Budaya yang buruk lagi memalukan seharusnya. Sehingga lelaki yang tidak merokok biasanya mencukupi syarat untuk dinilai baik di masyarakatnya. Rokok telah menjadi barang yang paling mudah didapati melebihi barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Seolah-olah rokok telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat kita. Sehingga sulit rasanya m
Merokok Membunuhmu
getlinkyoutube.com
encari rumah yang tak punya asbak rokok, bahkan sekalipun anggota keluarga tersebut tidak ada yang merokok. Sulit dijumpai warung, kedai, rumah makan dan tempat-tempat lain yang tidak menjual rokok.
            Padahal bahaya yang dapat ditimbulkan rokok telah banyak diketahui masyarakat. Bahaya-bahaya tersebut bukanlah bahaya yang kecil, bahkan sebagiannya dapat mengakibatkan nyawa melayang. Kangker paru-paru, gangguan jantung, hipertensi, kelainan pada janin, impotensi adalah nama-nama penyakit yang mengerikan yang diakibatkan merokok. Peringatan itu pun tertulis di tempat yang dapat dengan mudah dilihat oleh perokok yaitu di bungkus rokok dan iklan-iklan rokok. Akan tetapi istilah “Tuhan Kecil” bagi rokok untuk para perokok nampaknya ada benarnya. Karena bagi mereka merokok bukan hanya kegiatan yang sakral yang harus mereka penuhi jadwalnya setiap hari tetapi juga hal yang sangat sensitive untuk dibicarakan. Merokok seakan telah menjadi dogma yang tak boleh diperbincangkan tetapi harus diterima walau apapun resikonya. Sebagian para perokok bahkan memilih dilarang makan dari pada tidak diperbolehkan merokok.
            Sebegitu hebatnya kecintaan para perokok di Indonesia ini sehingga mereka bukan saja tak mengindahkan bahaya rokok yang akan menerpa tubuh jasmani mereka. Bahkan mereka tak lagi menghiraukan peri laku buruk yang timbul akibat kebiasaan merokok. Kebiasan-kebiasan yang mengganggu dan merugikan sekeliling mereka. Kebiasan-kebiasan yang mempermalukan diri mereka sendiri. Ketidak pedulian ini mungkin didukung karena kebanyakan orang di lingkungan kita adalah perokok. Seolah-olah berlaku prinsip “keburukan yang dilakukan oleh orang banyak menjadi kebaikan”.
            Allah berfirman dalam Al-Qur’an :
“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; Karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu”. (QS: Al-Baqarah; ayat: 168).

            Adapun kebiasan-kebiasan buruk para perokok itu diantaranya ialah :

1. Para perokok lebih senang membiarkan dirinya jatuh dalam kebinasaan secara sadar dari pada harus menghentikan kebiasaannya.

2. Para perokok bersikap egois dengan membiarkan lingkungannya rusak karena dirinya. Orang-orang terganggu karena asap yang ditimbulkan. Anak-istri terancam kangker karena menjadi perokok pasif. Bayi-bayi yang lahir membawa penyakit bahkan cacat. Lingkungan menjadi kotor karena puntung rokok berserakan. Seringkali api dari rokok merusak baju orang yang berdekatan dengan perokok. Bahkan kadang puntung rokok bisa menyebabkan kebakaran.

3. Para perokok cenderung merusak kenyamanan fasilitas umum seperti toilet umum, angkot, masjid dan lain-lain.

4. Anak-anak perokok sebagiannya terhenti proses pendidikannya dengan alasan orang tuanya tidak punya uang. Padahal jumlah uang yang dibelanjakan orang tuanya untuk membeli rokok melebihi kebutuhan anaknya sekolah. Rata-rata perokok membelanjakan Rp 400.000,- uangnya sebulan untuk membeli rokok. Sedangkan uang kuliah di Medan masih banyak yang satu jutaan rupiah setahun.

5. Para perokok tidak merasa malu merokok di depan orang banyak. Artinya mereka tidak merasa malu melakukan perbuatan buruk.

6. Banyak orang berkata : “Orang jahat pun tak menginginkan anaknya jadi jahat”. Artinya orang-orang yang tahu bahwa perbuatannya salah tidak ingin melihat anaknya jatuh pada kesalahan yang sama apa lagi meniru perbuatan salahnya. Akan tetapi para perokok mengetahui akibat buruk merokok yang luar biasa, namun mereka membiarkan anak-anak mereka melihat perbuatan buruk mereka yakni merokok. Padahal merokok adalah pintu gerbang menuju narkoba.

7. Para perokok merasa bangga dan senang bisa bersedekah rokok kepada orang lain. Seolah-olah mereka telah berbuat baik kepada orang lain. Sesungguhnya mereka telah berbagi keburukan atau menjerumuskan orang lain. Mereka telah melakukan keburukan dan menajak atau memfasilitasi keburukan pula.

8. Para perokok yang kebetulan menjadi ustadz berperilaku memalukan dengan merokok di dalam mesjid dan di depan jama’ahnya. Bila ditanyakan kepada mereka hukumnya tanpa malu mereka menjawab “haram” atau sebagian besar “makruh”. Seolah-olah hal yang makruh atau haram itu hal yang boleh dibanggakan.

9. Ada juga perokok yang menjadi guru merokok di depan kelas sambil mengancam para muridnya bila kedapatan merokok. Mengatakan dengan lantang bahwa dia sedang berbuat keburukan yang tidak pantas ditiru.

10. Para perokok yang masih pelajar tak kalah buruknya. Mereka bergaya laksana bintang iklan di depan umum dan di dalam angkot-angkot seolah-olah rokok telah menjadikan mereka lebih gagah dari orang yang tidak merokok. Mereka mengejek orang yang tidak merokok dengan menyebutnya sebagai banci. Namun tatkala mereka melihat atau berjumpa dengan orang tuanya seketika mereka lari terbirit-birit atau segera membuang rokonya walau baru sekali hisapan.

11. Para perokok pelajar juga banyak yang menggelapkan uang sekolahnya. Kadang mereka berbagi satu batang rokok. Mereka juga rela meninggalkan jam kelas demi arisan rokok atau bersembunyi di toilet. Dan yang lebih parahnya lagi terkadang mereka mengais puntung rokok yang telah dibuang orang lain.

12. Terakhir dari yang saya ketahui, para penjual rokok pun seharusnya merasa malu. Mereka telah menjual barang yang berakibat buruk bagi manusia dan lingkungan sekitarnya. Mereka menjual rokok kepada anak-anak padahal ada aturan yang melarang menjual rokok kepada anak di bawah usia 18 (delapan belas) tahun. Baik anak itu membeli untuk dirinya atau untuk orang lain.

Demikianlah bahwa setiap yang haram di sisi Allah atau yang dibencinya pasti menimbulkan hal yang buruk bagi diri pelaku maupun lingkungannya. Anadai pun kita belum tahu akibat buruknya itu minimal kita meyakininya bahwa sesuatu yang buruk di sisiNya pasti berakibat buruk pula. Dan untuk orang-orang yang sholeh hendaklah mereka senantiasa mengingatkan umat akan bahaya kebiasan-kebiasan buruk. Apabila sulit bagi kita mengingatkan masyarakat banyak minimal kita mengingatkan orang-orang terdekat kita. Orang-orang yang kita kasihi, orang-orang yang berjasa bagi kehidupan kita, orang-orang yang senantiasa menemani kita dalam mengarungi kehidupan ini, dan terutama orang-orang yang Allah Ta’ala mengamanahkan kepada kita untuk dipimpin, baik di rumah, di kantor atau di masyarakat. 

Firman Allah : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.(Q.S: At-Tahrim; ayat : 6)

Firman Allah Ta’ala juga : “Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”.(QS: At-Taubah; ayat: 25).

      Di akhir tulisan ini mohon maaf saya mengambil perumpamaan yang buruk, dan tidak ada yang saya inginkan dari perumpamaan ini kecuali kebaikan bagi anda, saya dan kita semua. Orang berkata : “Binatang yang paling buruk adalah babi”. Kenapa? Karena binatang ini memakan segalanya bahkan kotorannya sendiri. Akan tetapi binatang ini tidak mau makan daun tembakau.

Semoga Allah menjadikan kita umat yang mencintai kebaikan dan tidak ada yang kita cintai kecuali kebaikan saja. Amin.


SHARE :
CB Blogger

Posting Komentar

 
Copyright © 2015 Kajian Hasan Hamzah Lubis. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger