KEWAJIBAN TAZKIYATUN NAFS
Allah
Ta’ala berfirman :
“Demi
jiwa dan penyempurnaannya. Maka Dia mengilhamkan kepadanya jalan kebenarannya
dan kejahatannya. Sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwanya. Dan sungguh
merugi orang yang mengotori jiwanya.” (Q.S.: Asy-Syams ayat : 7-10).
![]() |
| pelesa.blogspot.com |
Karena itu menjaga kesucian jiwa
adalah perintah Allah Ta’ala (sesuai dengan ayat di atas), ajaran para Rasul
sholallahu’alaihimwasallam dan sejatinya agama itu sendiri. Dengan kesucian
jiwa ilmu akan melahirkan amal shaleh. Dan amal shaleh akan benar-benar
mengeluarkan buahnya, yakni : keikhlasan, kekhusyu’an, qana’ah, wara’,
tawakkal, mahabbah, khauf, raja’, wala’ tawakkal, semangat, keberanian dan
segala buah dari amal shaleh lainnya. Tanpa kesucian jiwa ilmu hanya melahirkan
macam-macam syubhat dan fitnah. Sementara amal shaleh hanya akan membuahkan
riya’, sum’ah, dan pada akhirnya terjadi kegersangan jiwa, kemalasan ataupun
kebid’ahan. Sehingga andaipun jiwa merasakan ketenangan, itu hanyalah
ketenangan semu yang ditanamkan oleh tipu daya setan.
Sejarah pun telah mencatat
perjuangan orang-orang shaleh di dalam memperjuangkan kesucian jiwa mereka.
Buku-buku yang mengajarkan tentang itu pun telah banyak ditulis dan menjadi
pelengkap khazanah ilmu keislaman. Namun setan tidak pernah berputus asa untuk
bermuslihat. Banyak manusia yang berkeinginan untuk menempuh penyucian diri
dikarenakan kekurangan ilmu atau kagum terhadap amalnya sendiri terjerumus pada
hal-hal yang salah yang tidak diajarkan bahkan berlawanan dengan maksud Islam
itu sendiri.
TAZKIYATUN NAFS YANG SALAH
Banyak sekali buku-buku yang
mengajarkan tata cara penyucian jiwa, atau yang diajarkan secara turun temurun,
atau pun kisah orang-orang yang dianggap shaleh atau dianggap wali, yang cara
mereka kemudian ditiru, tetapi sebenarnya bukanlah hal yang diajarkan oleh Islam
atau bahkan bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri karena mengandung mudharat
baik bagi badan, akal maupun aqidah.
Diantara hal-hal tersebut adalah
:
1. Mengharamkan yang
dihalalkan Allah Ta’ala
Diantara mereka tidak mau makan daging,
minum kopi, atau makanan-makanan yang lezat lainnya. Ada pula yang berniat
tidak akan menikah seumur hidup. Tidak mau memakai pakaian yang bagus-bagus dan
tidak pula mau tinggal di rumah yang bagus pula. Mereka mengharamkan hal itu
semua bagi diri mereka karena takut kenikmatan dunia melalaikan diri mereka
dari ketakwaan kepada Allah Ta’ala. Padahal Rasulullah shalallahu’alahiwasallam
adalah orang yang paling bertaqwa dan merupakan uswatun hasanah bagi kita,
tetapi Dia tidak mengharamkan hal-hal yang dihalalkan oleh Allah Ta’ala walau
bagi dirinya sendiri.
2. Menjauhi Ilmu Agama
Sebagian lagi ada yang menjauhi ilmu
agama. Hal ini mereka lakukan karena menganggap ilmu tidak menjamin orang
menjadi beriman. Mereka melihat orang-orang berilmu banyak yang berakhlak
buruk, sibuk dengan perdebatan tanpa memperlihatkan amal shaleh dan ada pula
yang menjadikan ilmunya hanya sebagai alat untuk memperkaya dirinya sendiri.
Sementara dia sendiri takut kesibukan akalnya terhadap ilmu dapat melalaikan
dirinya dari beramal dan zikir kepada Allah Ta’ala. Lalu dia memutuskan
menjauhi ilmu dan menyibukkan dirinya dengan amal shaleh. Hal ini adalah
perangkap setan yang nyata. Karena tanpa ilmu kita tidak akan tahu mana amal
yang diterima dan mana yang tertolak.
3.
Menganggap bahwa Kesaktian
adalah Bukti Kesucian Jiwa
Sebagian lagi ada yang menganggap bahwa
kesaktian yang didapat seseorang karena banyaknya berzikir menunjukkan bahwa
seseorang telah mencapai kesucian jiwa. Lalu mereka berguru kepada orang-orang
sakti itu. Yang dapat menyembuhkan dengan cara ghaib. Mengetahui hal-hal yang
tidak dapat diketahui oleh manusia, seperti masa depan. Mampu berjalan di atas
air, dapat melihat jin dan berkominikasi dengan mereka, mampu melipat gandakan
kekayaan dan lain-lain. Hal ini lahir karena kesalah pahaman dan ketiadaan ilmu
terhadap karamah para wali Allah Ta’ala sehingga menyangka sihir sebagai
karamah.
4. Membuat-buat Bid’ah
Karena kekurangan ilmu ada orang-orang
yang tidak dapat menemukan jalan penyucian diri dalam syari’at Islam yang
sempurna. Lalu mereka terjerumus pada godaan setan untuk membuat amalan-amalan
baru atau menambah-nambahi amalan yang sudah ditetapkan syari’at. Dengan itu
mereka merasa lebih dekat kepada Allah Ta’ala, padahal sebenarnya mereka
semakin jauh dari ridho Allah Ta’ala dengan mengotori agamanya yang suci dengan
amalan-amalan yang mereka buat-buat atau yang mereka ubah-ubah yang membuat
generasi berikutnya tak dapat membedakan mana yang ajaran agama dan mana yang
hasil kreasi nenek moyang mereka. Akhirnya mereka menganggap kaca sebagai
berlian dan menganggap berlian sebagai kaca. Diantara amal-amal bid’ah itu
adalah zikir-zikir yang tidak diajarkan Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam.
Ada juga yang berzikir sambil menari, bernyanyi atau membuat koor dalam
berzikir seperti yang dilakukan orang Nasrani di gereja mereka. Ada pula yang
memunculkan salat, puasa, kurban, hari raya atau sedekah dengan tata cara atau
dikaitkan dengan hal-hal yang tidak ada di dalam ajaran Islam.
Demikianlah diantara cara-cara
tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa yang menyimpang dari Islam. Masih banyak
lagi contoh-contoh tazkiyatun nafs yang salah yang diamalkan oleh umat Islam
karena hal tersebut pernah dilakukan
oleh orang shaleh atau yang dianggap wali padahal bukan dari ajaran Islam.
Semoga kita terhindar dari hal-hal yang demikian, dan cukuplah kesempurnaan
Islam bagi kita.
TAZKIYATUN NAFS YANG BENAR
Tazkiyatun
nafs yang benar adalah yang lahir dari ilmu yang benar dan amalan yang murni
yang tidak terkotori oleh kesyirikan, bid’ah ataupun tasyabbuh bil kufar.
Diantara tazkiyatun nafs yang diajarkan islam :
1. Mentadaburi Ayat-ayat
Qur’an dan Ayat-ayat Kauniah
Membaca Al-Qur’an, memahami maknanya
menurut penafsiran Rasulullah, para sahabat, tabi’in dan para ulama yang lurus
lalu merenungi sejauh mana kita telah memenuhi tuntutan iman kita terhadap
kitabullah adalah salah satu cara dalam penyucian jiwa. Bagaimana para sahabat
dan orang-orang shaleh dapat menangis karena ketakutan terhadap neraka atau
haru-biru mengharap surga ketika membaca Al-Qur’an adalah pengalaman jiwa yang
harus kita rindukan. Begitu pula ketakjuban atau kengerian kita terhadap
fenomena alam semua itu haruslah kita kembalikan kepada Allah Ta’ala yang
mencipta dan mengatur alam semesta.
2.
Merenungi Kisah Hidup para
Nabi dan Rasul Allah, para Mujahid dan Ulama
Sesungguhnya para nabi dan rasul Allah
Ta’ala shalallahu’alaihiwasallam adalah sebaik-baik manusia. Merekalah yang
paling bertaqwa di sisi Allah Ta’ala. Tetapi mereka pulalah yang paling berat
cobaannya dalam mengemban agama Allah maupun di dalam menempuh kehidupan ini.
Kesabaran, ilmu, ibadah dan keikhlasan mereka adalah contoh terbaik bagi kita. Membaca
serta merenungi kisah mereka dapat menjadi penyuci bagi jiwa kita. Begitu juga
para mujahid dan para ulama. Kecintaan mereka terhadap agama dan pandangan
mereka terhadap dunia dapat memandu kita dalam mengarungi bahtera kehidupan ini
dan dapat menguatkan hati untuk benar-benar menjaga kesucian jiwa dari segala
hal-hal yang mengotorinya.
3. Banyak Mengingat Mati
Dengan banyak mengingat mati kita
mencambuk hati dan pikiran kita agar fokus terhadap tujuan hidup kita.
Senantiasa berusaha mencapai husnul khatimah (akhir hidup yang baik) dan
mempersiapkan bekal bagi kehidupan setelah kematian dapat memberikan kepada
kita kekuatan dan kesabaran dalam mnghadapi cobaan di dunia yang fana dan
singkat ini. Kita juga tidak akan rakus atau sibuk untuk menimbun benda-benda
duniawi. Maka hendaklah ziarah kubur dan pelaksanaan fardu kifayah tidak kita
laksanakan begitu saja tanpa ada perenungan akan apa yang akan kita wariskan
dan persiapkan untuk menghadapi kematian dan kehidupan setelah kematian itu.
4. Rajin Mendatangi atau Berkumpul
Bersama Orang-Orang Saleh
Selalu berkumpul dengan orang-orang yang
cinta dan rakus terhadap dunia akan menjadikan hati kita keras dan mati.
Sementara suka berkumpul dengan para ahli ilmu agama yang ahli ibadah lagi
berakhlak baik akan menghidupkan hati, melapangkannya terhadap ilmu, dan menyuburkannya
dengan niat beramal saleh.
5. Mengunjungi Orang Yang
sakit
Dengan mengunjungi orang yang sakit kita telah
menghibur mereka. Namun yang lebih penting dari itu timbul dalam jiwa kita
kesadaran mensyukuri nikmat kesehatan. Menguatkan keinginan kita untuk menjaga
kesehatan diri dan segera berbuat amal kebaikan. Sesungguhnya banyak
amalan-amalan yang sangat mudah dilakukan diwaktu sehat tidak dapat kita
lakukan di waktu sakit. Mengunjungi rumah sakit akan menyadarkan kita betapa
mahal dan nikmatnya hidup sehat itu dan pentingnya kita mengisinya dengan
amalan-amalan yang baik.
6. Salat Malam dan
Memperbanyak Salat Sunah lainnya
Sesungguhnya salat malam adalah amalan
yang berat kecuali bagi orang-orang yang ingin mendekatkan dirinya kepada Allah
Ta’ala. Selain membangun kedekatan dan kekhusyukan salat malam juga melatih
diri kita untuk belajar ikhlas beribadah yang terbebas dari riya dan sum’ah.
Betapa bayak orang yang dengan mudah bangun untuk menonton bola tapi sulit
bangun malam untuk tahajud atau witir. Janganlah kita hanya salat malam ketika
dilanda cobaan hidup duniawi yang kita tidak tahu lagi jalan keluarnya
sekalipun itu tetaplah satu kebaikan.
7. Membasahi Lisan dengan
Zikir dan Menjauhi Perkataan Yang Sia-sia
Menjaga panca indra dari hal-hal yang
dibenci oleh Allah adalah upaya kita yang mesti dilakukan dalam menjaga hati,
pikiran dan jiwa. Apa-apa yang masuk ke dalam hati dan pikiran melalui panca
indera akan sangat mempengaruhi jiwa. Demikian pula halnya dengan lidah.
Apabila lidah kurang dari zikir dan banyak berkata sia-sia niscaya jiwa menjadi
resah dan gelisah.
8. Bersedekah Secara Konsisten
Baik Dalam Keadaan Lapang Maupun Sempit
Bersedekah secara konsisten baik dalam
keadaan lapang maupun sempit dapat mendidik hati dan menentramkannya. Sifat
tamak, bakhil, dan sibuk menumpuk-numpuk harta hanya akan membuat jiwa terikat
dengan benda-benda duniawi. Nafsu kita senang menumpuk, meminta dan memamerkan
harta benda, tapi jiwa kita yang fitrah suka memberi dan berbagi.
Inilah
diantara tazkiyatun nafs yang disyari’atkan oleh Islam yang mulia.

Posting Komentar