Bulan Ramadhan penuh berkah telah di depan mata. Bulan di dalamnya akan
dilipatkan gandakan segala amalan. Bulan penuh keutamaan, tidak ada di
bulan-bulan lainnya. Hanya dengan sebutir kurma atau sebungkus nasi yang
diberikan kepada orang yang berpuasa, seorang muslim akan mendapatkan
pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa.
Inilah
janji pahala yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan,
“Siapa memberi makan orang yang berpuasa,
maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi
pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi, no. 807
dan Ibnu Majah, no. 1746).
Al Munawi rahimahullah menjelaskan bahwa memberi makan buka
puasa di sini boleh jadi dengan makan malam, atau dengan kurma. Jika tidak bisa
dengan itu, maka bisa pula dengan seteguk air. (lihat Faidul Qadhir
6/243).
![]() |
Ath Thobari rahimahullah menerangkan, “Barangsiapa yang
menolong seorang mukmin dalam beramal kebaikan, maka orang yang menolong
tersebut akan mendapatkan pahala semisal pelaku kebaikan tadi. Rasul shallallahu
‘alaihi wa sallam memberi kabar bahwa orang yang mempersiapkan segala
perlengkapan perang bagi orang yang ingin berperang, maka ia akan mendapatkan
pahala berperang. Begitu pula orang yang memberi makan buka puasa atau memberi
kekuatan melalui konsumsi makanan bagi orang yang berpuasa, maka ia pun akan
mendapatkan pahala berpuasa.” (lihat Syarh Ibnu Baththal, 9/65).
Lantas,
apa sebenarnya pahala orang yang berpuasa di bulan Ramadhan? Dalam hal ini,
Rasulullah Shallallohu 'alaihi wasallam. telah menjelaskan akan hal itu.
a.
Allah akan mengampuni dosa-dosanya di masa lalu.
Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
“Barangsiapa yang berpuasa di bulan
Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu
pasti diampuni”. (HR. Bukhari dan Muslim).
b.
Bagi Orang yang Berpuasa akan Disediakan Ar Rayyan
Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu berkata,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang
bernama Ar-Royyaan. Pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa akan masuk surga
melalui pintu tersebut dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu
tersebut kecuali mereka. Dikatakan kepada mereka,’Di mana orang-orang yang
berpuasa?’ Maka orang-orang yang berpuasa pun berdiri dan tidak ada seorang pun
yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka. Jika mereka sudah masuk,
pintu tersebut ditutup dan tidak ada lagi seorang pun yang masuk melalui pintu
tersebut,” (HR. Bukhari dan Muslim).
c.
Allah langsung yang akan membalas pahala puasanya
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
“Allah berfirman,’Setiap amal anak Adam
adalah untuknya kecuali puasa. Puasa tersebut adalah untuk-Ku dan Aku yang akan
membalasnya. Puasa adalah perisai. Apabila salah seorang dari kalian berpuasa
maka janganlah berkata kotor, jangan pula berteriak-teriak. Jika ada seseorang
yang mencaci dan mengajak berkelahi maka katakanlah,’Saya sedang berpuasa’.
Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang
yang berpuasa lebih harum di sisi Allah pada hari kiamat daripada bau
misk/kasturi. Dan bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, ketika berbuka
mereka bergembira dengan bukanya dan ketika bertemu Allah mereka bergembira
karena puasanya’. “ (HR. Bukhari dan Muslim).
Pahala yang dijanjikan oleh Allah bagi orang yang berpuasa
di bulan Ramadhan sangatlah agung. Dengan memberi makan orang yang berpuasa di
bulan Ramadhan, seorang muslim akan mendapatkan pahala orang yang berpuasa
tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.
Di antara keutamaan lainnya bagi orang yang memberi makan
berbuka adalah do’a dari orang yang menyantap makanan berbuka. Jika orang yang
menyantap makanan mendoakan si pemberi makanan, maka sungguh itu adalah do’a
yang terkabulkan. Karena memang do’a orang yang berbuka puasa adalah do’a yang
mustajab. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
“Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak
: (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a
orang yang terdzolimi.” (HR. Tirmidzi, no. 2526).
Ketika berbuka adalah waktu terkabulnya do’a karena ketika
itu orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan
merendahkan diri.
Apalagi jika orang yang menyantap makanan tadi mendo’akan
sebagaimana do’a yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam praktekkan, maka
sungguh rizki yang kita keluarkan akan semakin barokah. Ketika Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam diberi minum, beliau pun mengangkat kepalanya ke langit dan
mengucapkan,
“Allahumma
ath’im man ath’amanii wa asqi man asqoonii” [Ya Allah, berilah ganti makanan
kepada orang yang memberi makan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang
memberi minuman kepadaku]. (HR. Muslim, no. 2055).
Tak lupa pula, ketika kita hendak memberi makan berbuka
untuk memilih orang yang terbaik atau orang yang sholih. Carilah orang-orang
yang sholih yang bisa mendo’akan kita ketika mereka berbuka. Karena ingatlah
harta terbaik adalah di sisi orang yang sholih. Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam pernah mengatakan pada ‘Amru bin Al ‘Ash, “Wahai
Amru, sebaik-baik harta adalah harta di tangan hamba yang Shalih,” (HR.
Ahmad, 4/197).
Dengan banyak berderma melalui memberi makan berbuka
dibarengi dengan berpuasa itulah jalan menuju surga. Dari ‘Ali, ia berkata,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya
di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian
dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya.” Lantas seorang arab
baduwi berdiri sambil berkata, “Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan
wahai Rasululullah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Untuk orang
yang berkata benar, yang memberi makan, dan yang senantiasa berpuasa dan shalat
pada malam hari di waktu manusia pada tidur.” (HR. Tirmidzi, no. 1984).
Adab
berbuka puasa
a.
Menyegerakan Berbuka
Rasulullah
Shallallohu 'alaihi wasallam telah memerintahkan kepada kita supaya menyegerakan berbuka puasa, ketika
matahari telah terbenam. Dari
Sahl bin Sa’ad , Rasulullah Shallallohu 'alaihi wasallam bersabda: “Senantiasa
manusia di dalam kebaikan selama menyegerakan bebuka.” (HR. Bukhâri 4/173
dan Muslim 1093).
Di
dalam riwayat lain yang dituturkan dari Sahl bin Sa’ad , dinyatakan, bahwa
Rasulullah Shallallohu 'alaihi wasallam bersabda: “Ummatku
akan senantiasa dalam sunnahku selama mereka tidak menunggu bintang ketika
berbuka (puasa).”(HR. Ibn Hibban 891 dengan sanad shahih).
Dari
Abu Hurairah , Rasulullah Shallallohu 'alaihi wasallam bersabda: “Agama ini akan senantiasa
menang selama manusia menyegerakan berbuka, karena orang-orang Yahudi dan
Nasrani mengakhirkannya.”HR. Abû Dâwud 2/305 dan Ibn Hibban 223,
sanadnya hasan.
b. Berbuka Sebelum Sholat Maghrib
Rasulullah Shallallohu 'alaihi wasallam berbuka sebelum sholat Maghrib karena menyegerakan berbuka termasuk
akhlaknya para nabi. Dari Abu Darda’ :“Tiga perkara yang
merupakan akhlak para nabi: menyegerakan berbuka, mengakhirkan sahur dan
meletakkan tangan di atas tangan kiri dalam shalat.”(HR. ath-Thabrani dalam
al-Kabîr).
c.
Berbuka dengan Kurma dan Air
Pada dasarnya, memberi asupan makanan manis pada tubuh,
selepas berpuasa penuh, akan lebih membangkitkan selera dan bermanfaat bagi
badan. Bahkan makanan manis, misalnya korma, akan menguatkan tubuh dan
mengembalikan kesegaran pada tubuh kita. Adapun air, sesungguhnya, ketika
sedang menjalankan ibadah puasa, banyak sekali cairan tubuh yang lenyap
(dehidrasi). Oleh karena itu, air sangat diperlukan untuk menormalisasi cairan
tubuh; sehingga tubuh kita tidak terkena dehidrasi.
Ketahuilah wahai hamba yang taat, sesungguhnya kurma
mengandung berkah dan kekhususan —demikian pula air. Lebih dari itu, ia akan
memberikan pengaruh yang baik dan mensucikan hati kita. Hal ini tidak ada
yang mengetahuinya kecuali orang yang mengikuti sunnah Rasulullah. Dari Anas
bin Malik :
“Adalah
Rasulullah Shallallohu 'alaihi wasallam berbuka dengan korma basah (ruthab), jika tidak ada ruthab maka
berbuka dengan korma kering (tamr), jika tidak ada tamr maka minum dengan satu
tegukan air.”(HR. Ahmad 3/163; Abû Dâwud 2/306; Ibn Khuzaimah 3/277-278;
at-Tirmidzi 93/70).
d. Doa yang Diucapkan Ketika Berbuka
Doa yang paling afdhal adalah doa ma’tsur dari Rasulullah Shallallohu 'alaihi wasallam. Nabi Shallallohu 'alaihi wasallam jika berbuka mengucapkan: “Dzahaba
ad-dhâma’u wabtalati al-‘urûqu watsabbati al-ajru insyaAllah (Telah
hilang dahaga dan telah basah urat-urat, dan telah ditetapkan pahala Insya
Allah).” (HR. Abû Dâwud 92/306, no. 2357; al-Baihaqi 4/239).
Ketahuilah, doa orang yang berpuasa akan dikabulkan oleh
Allah . Oleh karena itu, berdoalah kepadaNya dengan
doa-doa yang baik, mudah-mudahan engkau bisa mengambil kebaikan di dunia dan
akhirat. Dari Abu Hurairah dituturkan, bahwa Rasulullah Shallallohu 'alaihi wasallam bersabda: “Tiga
orang yang tidak akan ditolak doanya: orang yang puasa ketika berbuka, Imam
yang adil dan doanya orang yang didhalimi.”(HR. at-Tirmidzi 2528; Ibn Mâjah
1752; Ibn Hibban 2407 ada jahalah Abu Mudillah.)
Dalam
riwayat lain, dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ash, dituturkan, bahwa Rasulullah Shallallohu 'alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya
orang yang puasa ketika berbuka memeliki doa yang tidak akan ditolak.” (HR.
Ibn Mâjah 1/557; al-Hâkim 1/422; Ibn Sunni 128; ath-Thayalisi 299 dari
dua jalan al-Bushiri berkata: 2/81 ini sanad yang shahih,
perawi-perawinya tsiqat.)


Posting Komentar